Sunday, 4 February 2018

Miris..., Puluhan Tahun Tak Diperhatikan Pemerintah


BEGINILAH cara masyarakat Damar Kencana membawa hasil pertanian mereka keluar. (FHOTO: TONI)
KEPAHIANG RPP - Damar Kencana adalah nama Dusun ke 12 dari 13 Dusun yang ada di Desa Sosokan Taba Kecamatan Muara Kemumu. Lebih dari 300 kepala keluarga di Dusun ini, bermata pencaharian sebagai petani kopi dan lada. Tanah yang subur menjadikan Damar Kencana yang berarti Gunung Emas ini sebagai salah satu kawasan penghasil kopi terbesar di kabupaten ini. Penduduknya pun dari beragam suku, seperti Rejang, Lintang, dan Jawa. Mereka hidup rukun berdampingan. 

Salah seorang warga, Suparno, mengaku datang dari Pulau Jawa ke Damar Kencana pada kisaran tahun 1979. Di sini ia bercocok tanam kopi. 

Menurutnya, dari sejak pertama ia masuk ke Damar Kencana, belum sekali pun ada pembangunan fasilitas jalan yang dilakukan pemerintah. Kondisi jalan tanah yang berlumpur lebih kurang sepanjang 10 Km ketika hujan, membuat masyarakat setempat menderita. "Kami sangat membutuhkan pembangunan jalan, karena jalan di sini untuk menuju jalan aspal di Desa Cinto Mandi masih tanah, parahnya lagi saat hujan motor pun tak bisa melintas karena lumpur yang dalam," ungkap Suparno, Minggu (4/2).

Dikatakannya, kondisi jalan yang sedemikian memprihatinkan itu membuat petani kesulitan untuk menjual hasil perkebunan ke pasar. Salah satu alat transportasi adalah motor ojek. "Biaya ojek disini sangatlah tinggi, kami butuh uang Rp 50 ribu untuk naik ojek sampai simpang Desa Cinto Mandi, dan mesti naik angkot lagi jika ingin ke Pasar Kepahiang," katanya. 

Parahnya lagi, ongkos kopi dari areal perkebunan Damar Kencana ke Desa Cinto Mandi, mencapai Rp 1000/Kg. Artinya untuk mengeluarkan kopi dari Damar Kencana menuju Desa Cinto Mandi, dalam 1 ton kopi petani harus keluarkan uang Rp 1 juta. "Tak hanya itu, ongkos barang dari Pasar Kepahiang ke Damar Kencana juga sangat mahal. Ongkos semen saja lebih tinggi dari harga semennya, karena harga semen jika sudah sampai Damar Kencana bisa Rp 200 ribu lebih per sak," ujarnya. 

Buruknya akses jalan dari Damar Kencana menuju Desa Cinto Mandi membuat para petani memilih untuk menjual hasil perkebunanya ke wilayah Padang Tepong Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang, Sumsel. Karena akses jalan yang lebih mudah dijangkau. "Bayangkan saja, pernah satu pengumpul kopi di Padang Tepong itu dapat 300 ton kopi dari Damar Kencana selama kurun waktu satu tahun. Itu baru satu pengumpul kopi saja. Bisa dibayangkan berapa banyak kopi dari Damar Kencana yang tidak dijual di Kabupaten Kepahiang," bebernya. 

Dari aspek kesehatan, tak kalah menyedihkan. Pasalnya, di Damar Kencana tidak ditemukan adanya petugas medis atau bidan. Jika sewaktu-watu butuh layanan kesehatan, maka warga Damar Kencana harus berjuang dulu melewati jalan berlumpur. "Bahkan dulu pernah ada seorang warga yang melahirkan di jalan," ucap Suparno. 

Pada tahun 1991, cerita dia, warga Damar Kencana pernah secara swadaya sumbangan Rp 200 ribu per KK untuk melakukan pendoseran badan jalan. "Sampai kini belum ada tanda tanda jalan Damar Kencana akan dibangun. Padahal penduduk Damar Kencana sudah banyak, bahkan sudah layak menjadi desa. Kita berharap Pemerintah Daerah Kepahiang maupun Pemerintah Provinsi Bengkulu mendengarkan aspirasi kami ini," harap Suparno. (red) 

  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook

0 komentar:

Item Reviewed: Miris..., Puluhan Tahun Tak Diperhatikan Pemerintah Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai