Sunday, 11 February 2018

Kreatif, Begini Cara Sugiarto Gali Bakat Siswanya

Siswa SDN 02 RL berdialog dengan dokter di Puskesmas Curup Timur
DALAM memberikan materi pembelajaran, seorang guru dituntut untuk kreatif. Agar materi menjadi lebih menarik, sehingga siswa tidak mudah bosan atau jenuh. Seorang guru harus mampu menciptakan suasana agar siswa tertarik ingin mengeksplore lebih dalam mata pelajaran, sekaligus menggali minat bakat para siswanya. Begitulah yang dilakukan Sugiarto, S.Pd, seorang guru kelas di SDN 02 Rejang Lebong (RL). Dengan cara yang dilakukannya ini, sekali mendayung banyak wawasan yang diperoleh para siswa. Berikut laporannya.

IMAN KURNIAWAN, Curup

Pagi, sekira pukul 07.30 WIB, sebanyak 31 siswa kelas 5 C SDN 02 RL berkumpul di halaman sekolah. Terpancar dari raut wajah mereka yang penuh dengan kegembiraan. Saat itu mereka tengah bersiap-siap untuk melaksanakan kegiatan kontekstual learning pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Siswa diajak belajar langsung kepada alam dan narasumber yang sebelumnya telah dikoordinasikan oleh pihak sekolah. Seperti, Puskesmas Curup Timur dan tokoh masyarakat Desa Cawang Lama, Selupu Rejang. Agar menarik, kegiatan tersebut dikonsep sedemikian rupa layaknya film dokumenter. Salah seorang siswa dipilih sebagai pembawa acara (host), yang berakting di depan kamera sederhana.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Puskesmas Curup Timur. Mengapa memilih puskesmas ini? Karena di sini terdapat taman bunga dan contoh tanaman obat keluarga (toga). Sehingga, selain berekreasi menikmati keindahan taman bunga, siswa juga bisa mengenal dan belajar langsung jenis-jenis toga serta manfaatnya. Setibanya di Puskesmas Curup Timur, para siswa disambut ramah oleh kepala puskesmas, para dokter serta karyawan puskesmas.

Sebelumnya, dari 31 siswa tersebut sudah dibagi menjadi empat kelompok, yakni kelompok UKS, gizi, gigi dan toga. Masing-masing kelompok memiliki tugas melakukan wawancara kepada narasumber masing-masing. Kelompok gigi melakukan wawancara kepada dokter gigi, begitupun dengan kelompok Toga dan kelompok lainnya. Di samping itu, para siswa juga didampingi empat orang guru yakni Sugiarto sendiri sebagai guru kelas, kemudian Sugiriang juga guru kelas, Dedi Candra guru olahraga dan Putri Fransiska guru Seni. "Sebelumnya, para siswa ini sudah kita latih bagaimana cara melakukan wawancara dengan benar dan sopan kepada narasumbernya," ujar pencetus kegiatan, Sugiarto.

Para siswa tampak antusias. Mereka banyak bertanya kepada dokter yang pada saat itu menjadi pemateri. Sehingga, siswa pun mendapat wawasan baru tentang kesehatan dan dunia kedokteran. Serta mengenal tumbuh-tumbuhan yang bisa dijadikan obat. "Siswa kita ajak untuk terlibat langsung, berinteraksi langsung. Jadi, bukan hanya teori. Mereka berinteraksi langsung dengan dokter, petugas kesehatan dan tanaman," jelas Sugiarto.

Dari kunjungan ke puskesmas ini, ada banyak manfaat yang bisa diperoleh para siswa. Selain mereka bisa mengenal jenis-jenis tanaman dan manfaatnya, mereka juga mendapatkan gambaran tentang dunia kedokteran dan kesehatan. Sehingga, mereka semakin termotivasi untuk giat belajar agar cita-cita menjadi soerang dokter bisa tercapai.
"Pada saat ke puskesmas, anak-anak mendapatkan wawasan tentang tanaman, ini kaitannya dengan dunia sains, khususnya mata pelajaran IPA. Selain itu, anak-anak juga mendapatkan wawasan tentang dunia kedokteran. Karena mereka bisa terlibat langsung dan bertanya langsung kepada dokter," kata Sugiarto.

Setelah ke puskesmas, para siswa bergerak ke kolam renang yang berada di Desa Cawang Lama, Selupu Rejang. Di sini mereka bertemu dengan tokoh masyarakat setempat, yakni Pak Daud, warga asli desa setempat. Tujuan ke Desa Cawang Lama, karena di desa ini terdapat kisah atau legenda lokal seorang pendekar Jagok Setahun.

Di kolam renang, anak-anak berkumpul duduk lesehan mendengarkan cerita dari Pak Daud, bagaimana sepak terjang sang pendekar. Tidak hanya kisah pendekar Jagok Setahun, Pak Daud juga mengenalkan tentang budaya, adat istiadat, juga kearifan lokal yang bisa dilakukan masyarakat pada zaman dahulu dan masih dilakukan hingga sekarang. Seperti, meminum bioa peing (air bambu). Bioa peing ini sering diminum  masyarakat ketika pergi ke hutan-hutan dan pada saat berburu. Caranya, pohon bambu ditebang, lalu air yang ada di dalam bambu digunakan untuk menghilangkan dahaga.
"Dari sini, anak-anak yang tadinya belum tahu, akhirnya bisa tahu bahwa di Rejang Lebong juga sebenarnya memiliki legenda. Sehingga, mereka tidak hanya mengenal legenda-legenda dari daerah luar, tetapi juga mengenal legenda daerah sendiri," tukas Sugiarto.

Sugiarto melanjutkan, sasaran dari kegiatan ini sebenarnya adalah untuk mengembangkan kreativitas siswa dibidang tulis-menulis dan seni. Karena, puncak dari kegiatan ini, para siswa diminta membuatkan sebuah karya yang dibagi menjadi dua pilihan. Pertama karya tulis, kedua menggambar. Namun, siswa diberikan kebebasan untuk memilih dari dua pilihan tersebut, untuk mencerita pengalaman empris mereka selama melakukan kegiatan. Bagi yang suka menulis, silakan membuat tulisan atau karangan. Bagi yang suka menggambar silakan membuat cerita bergambar atau komik. Tentu, karya-karya tersebut dibuat sesuai dengan kemampuan mereka. Sehingga nanti goal-nya adalah, bisa diketahui bakat-bakat para siswa di bidang tulis-menulis atau seni.
"Selanjutnya, bakat-bakat anak ini kita bina dan kita kembangkan, sehingga mereka bisa menjadi siswa berprestasi," pungkas Sugiarto, seraya mengucapkan terima kasih kepada Bupati RL, Kepala SDN 02 RL dan dewan guru, pimpinan dan jajaran Puskesmas Curup Timur, BMA Cawang Lama dan para orang tua siswa yang sudah mendukung dan memberikan kepercayaan sehingga terlaksananya kegiatan tersebut. (**)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook

0 komentar:

Item Reviewed: Kreatif, Begini Cara Sugiarto Gali Bakat Siswanya Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai