Monday, 18 December 2017

Evakuasi Menegangkan di Puncak Gunung Kaba


EVAKUASI: Petugas SAR turun ke kawah mati menggunakan tali.
SELUPU REJANG RPP - Pasca informasi ditemukannya jenazah di dalam kawah mati Bukit Kaba, Kecamatan Selupu Rejang Minggu (17/12), tim evakuasi yang tergabung dalam SAR gabungan bergerak cepat.

SAR gabungan tersebut di antaranya, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Dulu Basarnas,red) Provinsi Bengkulu, TNI/Polri, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Rejang Lebong (RL) di Back Up Sekolah Alam Bengkulu MAHIRA, FPTI Provinsi Bengkulu, PMI Kabupaten RL, KPHK TWA Bukit Kaba, Mapala dan masyarakat.

Senin (18/12) dini hari, tim sudah berkumpul di Pos KPHK TWA Bukit Kaba dan siap melakukan evakuasi. Namun, karena kondisi cuaca tidak memungkinkan, disepakati evakuasi dilakukan pagi hari. Berbagai peralatan sudah disiapkan, termasuk tabung oksigen portabel untuk mengantisipasi jika seandainya zat asam dari sumur kawah naik ke permukaan.

Pukul 07.00 WIB setelah dilakukan apel, tim bergerak menuju ke puncak dengan jarak tempuh kurang lebih sekira 2 jam perjalanan. Sesampainya di puncak Kaba, awalnya kondisi cuaca cukup mendukung. Tetapi, lambat laun kabut pun semakin tebal. Sehingga, cukup mengganggu proses evakuasi jenazah yang diketahui bernama Warniadi (25) warga Dusun III Desa Suban Ayam Kecamatan Selupu Rejang. Meski demikian, tim tetap sepakat untuk melakukan evakuasi saat itu juga. 

Putra Andesta dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan dipercaya untuk turun ke dalam kawah, dibantu tim lainnya yang terdiri dari FPTI, PMI, TNI/Polri serta masyarakat. "Tim yang turun ke dalam sumur kawah hanya satu orang, tidak bisa lebih. Karena, kondisi dindingnya lembut, sehingga mudah runtuh," ujar Kasubsi Ops Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Provinsi Bengkulu, Zul Indra, SH.

Selain itu, kedalam sumur kawah juga masih simpang siur. Ada yang menyebutkan 300 meter dan ada yang menyebutkan 250 meter. Sehingga kondisi ini juga menjadi salah satu kendala tim melakukan evakuasi.

Kendati demikian, Putra Andesta tetap turun untuk mengangkat jenazah, dengan membawa kantong jenazah dan alat komunikasi. Kurang lebih di kedalam sekira 115 meter, posisi jenazah ditemukan dalam keadaan tertelungkup, kepala luka. Tetapi, jasadnya masih utuh. Hanya saja, alat komunikasi yang sudah di bawa dari atas tidak berfungsi sama sekali. Sehingga, tim akhirnya menggunakan teknik komunikasi relay, yakni dengan cara berteriak ke tim satu dan tim satu berteria ke tim 2 dan seterusnya. "Komunikasi terpaksa kita lakukan dengan cara teriak-teriak, karena alat komunikasi di bawah tidak mendapat sinyal," terang Zul.

Setelah berjuang sekira 2 jam lebih, akhirnya jenazah Warniadi berhasil di angkat ke permukaan dan dilakukan identifikasi. "Proses evakuasi memang cukup lama, selain kedalaman tidak jelas, kabut tebal juga menjadi kendala. Dari beberapa kali melakukan evakuasi, kami akui, yang kali ini memang lebih sulit dibandingkan sebelumnya," pungkas Zul.

Di gerbang masuk TWA Bukit Kaba, sudah menunggu ambulans dari Puskesmas Sumber Urip. Tampak hadir, Kepala BPBD RL, Basuki S.Sos, Wakapolres Kompol Hardidinata, Ketua PMI RL, Hendra Wahyudiansyah, Danramil dan ratusan warga.

SAR Gabungan

Vertical Rescue

SEMENTARA, Sekretaris Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Rejang Lebong (RL), M. Adli, mengatakan, sebenarnya FPTI RL memiliki tim vertical rescue yang di dalamnya terdiri orang-orang yang menguasai teknik vertical rescue. Hanya saja, FPTI RL hingga saat ini terkendala peralatan yang memadai.

Sehingga, pada saat akan melakukan evakuasi, pihaknya harus meminjam peralatan dari FPTI Provinsi Bengkulu dan Sekolah Alam Bengkulu MAHIRA. "Kita sampai sekarang terkedala oleh alat. Kalau personil kita siap, bahkan mereka sudah memiliki skill yang memadai," ujar Adli.

Adli menjelaskan, di FPTI itu sebenarnya terdapat divisi vertical rescue. Dimana vertical rescue ini merupakan bagian dari operasi SAR dengan teknik evakuasi objek (baik barang maupun manusia/korban) dari titik rendah ke titik yang lebih tinggi atau sebaliknya, pada medan yang curam/terjal baik kering maupun basah.

Aplikasi vertical Rescue selain digunakan dalam Rock Climbing dan Caving, juga digunakan oleh para pekerja tambang, pekerja ketinggian, pemadam kebakaran dan pastinya digunakan oleh kalangan Militer untuk kebutuhan-kebutuhan taktis.

Ia berharap, kedapan bisa mendapat bantuan peralatan yang memadai. Karena, bencana atau musibah bisa terjadi kapan pun dan di mana saja. Sehingga, pihaknya bisa bergerak cepat, tanpa harus meminjam peralatan ke Kota Bengkulu. "Kita punya personilnya. Harapan kita didukung pula oleh peralatan yang memadai," pungkas Adli pasca evakuasi. 

RUMAH DUKA

Keluarga Tahu dari Medsos 

IDENTITAS korban yang jatuh di kawah mati Bukit Kaba Kecamatan Selupu Rejang bisa diketahui, bermula ditemukannya motor Suzuki FU warna biru BD 5613 KI di hutan jalan masuk menuju puncak Bukit Kaba.

Oleh warga, motor tersebut kemudian dishare ke media sosial facebook. Melalui informasi dari facebook inilah, lalu keluarga datang untuk memastikan bahwa motor tersebut memang kepunyaan Warniadi. Setelah dicek ternyata benar, bahwa motor tersebut kepunyaan korban. "Baru pagi tadi (kemarin,red) kami tahu kalau ternyata ada jenazah di dalam kawah mati tersebut. Setelah, kami dapat informasi ditemukan motor milik Warniadi dari facebook," ujar paman korban, Haryono.

Sementara itu, menurut Kepala KPHK TWA Bukit Kaba, Winarso SH, motor tersebut sebenarnya sudah ditemukan sejak 2 hari yang lalu. Tetapi, pihaknya mengira kalau motor tersebut milik warga yang biasa melintas di jalan tersebut. "Kami sudah lihat sejak 2 hari lalu. Tetapi kami tidak mengira kalau itu kepunyaan korban. Baru kemarin (Minggu malam,red) kami menduga kalau motor itu kepunyaan korban. Karena tidak diambil-ambil pemiliknya," pungkas Winarso.

Di sisi lain, diketahui, korban bermana Warniadi (25) warga Dusun III Desa Suban Ayam Kecamatan Selupu Rejang ternyata sudah menghilang sejak hari Rabu (13/12). Diceritakan paman korban, Haryono, Rabu pagi tersebut korban diajak untuk bekerja ke kebun seperti biasa. Karena korban sehari-harinya memang berprofesi sebagai buruh petani yang rajin. 

Sebelum pergi ke kebun, korban diberi uang Rp 20 ribu untuk dibelikan bensin motor dan sisanya untuk dibelikan rokok. Tetapi, setelah pamit pergi membeli bensin, korban tidak pulang-pulang. Hingga kabar mengejutkan, bahwa jenazah korban ditemukan di dalam kawah mati. "Dia itu (korban,red) orangnya pendiam. Tidak banyak tingkah. Kalau kami bilang 10 betul," kata Haryono.


Haryono sendiri mengaku tidak menduga kalau korban pergi ke Bukit Kaba. Karena selama ini korban biasanya hanya pergi ke kebun lalu pulang ke rumah. Tetapi, entah mengapa justru dia ditemukan sudah menjadi mayat di Bukit Kaba. "Kami tidak tahu, dengan siapa dia ke Bukit Kaba. Apakah sendiri atau bersama orang lain. Karena selama ini, dia memang orangnya pendiam," tandasnya.  

Doa

Dimandikan dan Dikafani Pihak RSUD Curup 

PASCA evakuasi yang dilakukan SAR gabungan tersebut, korban tidak langsung disemayamkan di rumah duka di Desa Suban Ayam, melainkan dilarikan ke RSUD Curup guna kepentingan visum. Tampak mendampingi jenazah korban antara lain, Kepala Desa Suban Ayam, Ketua PMI RL, dan Bhabinkamtibmas Polsek Curup.

Setiba di RSUD Curup, korban langsung dibawa ke Instalasi Pemulasaran. Oleh pihak medis RSUD Curup, setelah dilakukan visum et repertum, jenazah korban langsung dimandikan dan dikafani dengan bantuan seorang imam dari Kelurahan Dwi Tunggal Ujung.

Menurut keterangan petugas medis, dari pemeriksaan yang dilakukan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan yang mencurigakan di tubuh korban. Hanya terdapat beberapa luka kecil di pinggang kanan, tangan kanan, dan kepala belakang. Sangat dimungkinkan, luka-luka tersebut akibat goresan saat terjatuh. "Kami tidak bisa menjelaskan secara rinci mengenai luka-luka di tubuh korban, untuk lebih jelasnya silakan ke petugas rekam medik," ujar petugas piket IGD RSUD Curup.

Ia menambahkan, korban diperkirakan sudah meninggal dunia dua hari. Hal tersebut ditandai dari darah korban yang masih terlihat segar. (red)




  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook

0 komentar:

Item Reviewed: Evakuasi Menegangkan di Puncak Gunung Kaba Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai