Wednesday, 29 November 2017

Derita Rahmat Juliansyah (9), Si Bocah Periang Tubuh Dipenuhi Bintik-Bintik, Sampai Tak Bisa Sekolah

BEGINILAH Rahmat menghabis waktu dari hari ke hari dengan berdiam di tempat tidur, ditemani sang ibu tercinta.

RAHMAT Juliansyah masih berusia 9 tahun. Namun putra bungsu dari tiga saudara pasangan Fatmawati (38) dan Robet (40), warga Jalan Lastari RT 3 RW 1, depan Masjid Padang Kelurahan Talang Rimbo Baru Kecamatan Curup Tengah itu, hanya bisa berdiam diri di rumah. Di kala teman-temannya asyik bermain, Rahmat justru berjuang melawan rasa gatal, pedih dan panas yang mendera sekujur tubuhnya. Apa yang terjadi?

Bambang Triyono, Curup Tengah

Sejak 23 Juli 2017, sepulang sekolah, muncul bintik-bintik tepat di belakang kedua telinganya. Keesokan harinya, bintik-bintik tersebut memenuhi tubuhnya dan tampak kemerahan. Akhirnya, Rahmat dibawa ke dokter terdekat. Semula, dokter mendiagnosa jika Rahmat terjangkit cacar. Setelah diberi obat, bintik-bintik tersebut mengering. Namun muncul bintik-bintik baru berisi nanah. Sempat tiga kali ke dokter selama sebulan lamanya, penyakit seperti cacar itu kembali muncul. Rasa pedih, panas, dan gatal yang terus mendera Rahmat. "Sudah tiga bulan ini, Rahmat tak kuat sekolah. Sebab ketika kena angin, Rahmat merasa pedih dan gatal. Dia selalu menggaruk-garuk hingga mengeluarkan nanah," terang Fatmawati, ibu Rahmat.

Menurut Fatmawati, berbagai upaya dilakukan untuk kesembuhan Rahmat. Pernah dibawa ke RSUD Curup, tiga hari kemudian dirujuk Ke RSUD M. Yunus Bengkulu, setelah mengurus Kartu Indonesia Sehat (KIS). Rahmat pun terbaring lemah selama 14 hari.

Tim dokter yang menangani Rahmat mendiagnosa, Rahmat mengidap alergi mania dan metapsone. Tim dokter memutuskan, Rahmat sudah bisa pulang dengan terus menjaga pola makan dan selalu meminum obat guna menyembuhkan penyakitnya. 

Fatmawati menambahkan, keluarganya merasa terbantu dengan adanya pengobatan gratis setelah mengurus ke Dinas Kesehatan. Hanya saja, untuk biaya keberangkatan dan selama berada di Bengkulu tentu membutuhkan uang yang besar. Bayangkan saja, selama 14 hari di Bengkulu setidaknya sudah meminjam uang dari keluarga di Lubuklinggau sebesar Rp 3 juta. Sebentar lagi akan ke Bengkulu untuk check up dan mengambil obat lagi. Meski begitu tak jadi masalah asalkan Rahmat bisa sembuh dan bisa melanjutkan sekolahnya dan bisa bercanda bersama teman-temannya. "Rahmat anaknya periang dan banyak teman, banyak teman-temannya yang menjenguknya dan memberikan semangat dan motivasi, termasuk dewan gurunya yang selalu mengontrol di rumah. Untunglah pihak sekolah memberikan peluang kepada Rahmat untuk sekolah setelah sembuh nanti," kata Fatmawati.

Fatmawati menambahkan terkadang dirinya kasihan melihat suaminya. Sehari-hari, Robet bekerja sebagai tukang pasang tenda yang gajinya tidak menentu. Selain dihadapkan untuk membayar kontrakan setiap bulan sebesar Rp 250.000, mereka juga menyekolahkan dua orang anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan bolak-balik membeli obat untuk kesembuhan Rahmat.
Fatmawati tak bisa membantu suaminya bekerja, sebab harus menjaga Rahmat. "Kami mengontrak di rumah kecil sebab inilah kontrakan yang murah, aku harus bisa mengatur keuangan meski terkadang tak ada pemasukan. Ya terpaksa mengutang di warung," tandasnya. (**)


  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook

0 komentar:

Item Reviewed: Derita Rahmat Juliansyah (9), Si Bocah Periang Tubuh Dipenuhi Bintik-Bintik, Sampai Tak Bisa Sekolah Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai