Monday, 10 July 2017

Pro Kontra Pusat Kuliner

Lapangan Setia Negara Curup
PEMBANGUNAN pasar kuliner di Lapangan Setia Negara merupakan salah satu wujud upaya pemerintah daerah menjadikan RL sebagai kota wisata. Untuk merubah lapangan yang pernah menjadi tempat pidato sang proklamator Indonesia, Muhammad Hatta itu menjadi pusat wisata kuliner, Pemkab RL mengganggarkan Rp 1,3 miliar di APBD tahun 2017. Namun belakangan, muncul pro dan kontra dari sebagian masyarakat terkait rencana ini. Berikut liputannya.

Seusai rencana, setelah pusat kuliner selesai dibangun, pemkab akan merelokasi seluruh pedagang kuliner di pasar bang mego ke pasar kuliner di eks Lapangan Setia Negara. Salah seorang pedagang bernama Yanto dengan tegas menolak relokasi ini. Sebab pendapatan mereka selama berjualan di samping Bang Mego cukup lumayan. Jika pindah ke lokasi pusat kuliner, mereka khawatir omzet bakal berkurang.
"Kalau dari sore sampai tengah malam berjualan, cukuplah untuk membayar kontrakan dan biaya anak sekolah, setidaknya minimalnya permalamnya bisa meraup keuntungan Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Jadi saya harap kami pedagang jangan digusur sebab disinilah tempat kami bertahan hidup," ujarnya.

Yanto menambahkan dirinya sudah memiliki langganan yang hampir setiap malamnya selalu mampir untuk menyantap menu makanan yang ia jual. "Sebagai pedagang jika itu sudah aturannya, ya terpaksa pindah, maklum kami pedagang kecil yang hanya menggantungkan hidup dengan berjualan makanan. Tapi kalau bisa biarkan kami di sini saja," tutupnya.

Pernyataan kurang sependapat juga disampaikan salah satu tokoh masyarakat RL, H Saidina Ali. Ia khawatir, dengan alih fungsi ini akan menghilangkan nilai sejarah Lapangan Setia Negara. Sebab diketahui di lapangan ini Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia Mohammad Hatta pernah berpidato.

Ia mengungkapkan, nama Lapangan Setia Negara ini bukan hanya nama sembarangan melainkan ada nilai sejarah kenapa hingga nama lapangan setia negara ini tercipta. "Saat pidato wakil presiden pertama di lapangan tersebut, beliau berulang kali menyebutkan nama setia negara saat berpidato. Karena saat itu lapangan yang tidak memiliki nama, maka disebut-sebutlah nama setia negara oleh masyarakat setiap menujukkan lokasi lapangan tempat pidato itu, maka nama Lapangan Setia Negara tercipta hingga sampai sekarang," cerita Saidina.

Bukan hanya itu, dalam pelaksanaan perayaan HUT Kota Curup Lapangan Setia Negara ini menjadi pusat pelaksanaan hingga bertahun-tahun lamanya. Jadi sangat disayangkan jika pusat sejarah pelaksanaan perayaan HUT Kota Curup ini juga akan menghilang.
“Kita memang butuh pembangunan, namun jangan sampai menghilangkan nilai sejarah yang telah ada. Masih banyak lahan kosong yang bisa dijadikan tempat pembangunan, jadi sebaiknya carilah lokasi lain saja," sarannya.

Pimpinan Muhamadiyah Daerah RL, Dr Lukman juga menyampaikan keberatannya. Alasannya, sudah 47 tahun lapangan itu jadi Lokasi Shalat Ied. “Pelaksanaan shalat Ied di lapangan setia negara sudah berlangsung sejak tahun 1970. Dan jika fungsi lapangan diubah maka jemaah muhammadiyah tentu akan kesulitan mencari lokasi tempat pelaksanaan Salat Ied. "Sudah kami sampaikan saat lebaran kemarin ke bupati agar mempertimbangkan kembali rencana ini. Dan bupati masih mempertimbangkan bagaimana bentuk pasar kuliner itu nanti seperti apa," lanjut Lukman.

Ditambahkan pimpinan Muhammadiyah Curup 1, Drs H Nasril, aspirasi yang pihaknya sampaikan ini mewakili umat muslim di lokasi pasar tengah, pasar baru dan sekitar yang rutin melakukan shalat di sana. "Dalam tanggapan bupati ini, Ia masih mengizinkan pelaksanaan shalat Ied di sana jika masih ada ruang yang memadai untuk salat," kata Nasri. (wsa/ben)

Dialihkan ke Dwi Tunggal


Lapangan Setia Negara selama ini menjadi tempat pelaksanaan kegiatan daerah seperti pesta rakyat HUT Curup, Pameran dan Bazaar, upacara bendera beberapa waktu ke depan, tidak akan ada lagi.
Terkait hal ini, beberapa waktu lalu Bupati RL DR (HC) H Ahmad Hijazi, SH, M.Si mengatakan, pengalihan fungsi lapangan Setia Negara karena lokasinya sangat strategis di pusat kota. Dimana Pemkab RL juga membangun gedung serbaguna dan hotel setara bintang tiga di eks kantor Dinas PU sehingga sangat pas jika lapangan ini dibangun pusat wisata kuliner, untuk mencapai RL kota wisata.
"Nanti kegiatan daerah akan kita alihkan ke Lapangan Dwi Tunggal, karena RSUD Curup akan kita pindahkan ke RSUD Curup di dua jalur. Disana pembangunannya masih terus kita lakukan secara bertahap. Intinya kita akan menyediakan tempat yang layak untuk menjadi pusat wisata kuliner yang nyaman, bersih dan aman. Harapan kami tentunya mendapatkan dukungan dari masyarakat," jelas bupati.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan, UKM, dan Perindustrian RL Sabirin Saleh, SE, pembangunan pasar kuliner di setia negara awal Agustus akan segera dimulai. "Sekarang sedang persiapan untuk lelang, mudah-mudahan awal Agustus nanti sudah bisa dikerjakan,” ujarnya.

Dipaparkan Sabirin, di lokasi nanti akan dibuatkan auning dan fasilitas lainnya, termasuk tempat duduk para penikmat makanan. Selain terdapat puluhan auning dan tempat duduk, di lokasi ini juga bakal dilengkapi dengan live musik yang rencananya di tempatkan di Balai Agung. Kemudian di sudut lapangan dekat lapangan Basket bakal dibangun papan panjat tebing buatan (Climbing Wall) sehingga bisa digunakan untuk olahraga.

"Kemudian gedung serbaguna dan juga hotel sudah mulai dikerjakan di eks kantor Dinas Pekerjaan Umum disamping lapangan itu. Sedangkan untuk parkirnya nanti kita koordinasi dengan Dinas Perhubungan. Untuk retribusi bagi penjualnya nanti itu kewenangan dari Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD). Sedangkan untuk saluran pembuangan air dan kebersihan supaya pasar ini tidak kumuh kita koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup," jelas Sabirin. (yon)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook

0 komentar:

Item Reviewed: Pro Kontra Pusat Kuliner Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai