Monday, 24 July 2017

Kisah Janda Miskin Nafkahi Empat Anak Sendirian, Si Bungsu Sampai Kurang Gizi

Anak bungsu Hayati terbaring lemas di RSUD Curup
Perih rasanya ketika mengetahui kondisi kehidupan Hayati (45) warga Desa Tebat Pulau Kecamatan Bermani Ulu. Sejak suaminya meninggal dua tahun lalu, ia harus berjuang sendirian menghidupi empat anaknya. Apa saja ia lakukan demi mendapatkan uang, termasuk menjadi buruh tani. Kondisi diperparah karena salah seorang anaknya menderita kurang gizi. Berikut kisah kehidupannya. 

BAMBANG TRIYONO, Curup. 

Seorang perempuan paruh baya berpakaian sederhana dan bersarung agak usang tampak terduduk lesu di sisi salah satu ranjang di bangsal anak kelas III RSUD Curup. Di hadapannya terbaring bocah laki-laki dengan infus di tangan. Dari tatapan matanya tergambar beban hidup yang begitu berat. Sesekali ia membenarkan penutup kepalanya sembari mengusap wajah yang letih. Tampak sekali ia ingin berusaha sedikit meringankan beban di dada.
Dialah Hayati yang sedang menunggui putra bungsunya, Hairul Fahmi yang baru berumur 2,3 tahun. Hairul dirawat karena menderita kurang gizi. Wajahnya tampak sedikit kaget ketika wartawan koran ini mendatanginya. Setelah mengetahui kehadiran wartawan, ia pun tersenyum.
Tak menunggu lama, mengalirkan kisah pahit kehidupan dari mulut Hayati. Dikisahkannya, sehari-hari ia harus banting tulang mencari nafkah karena suaminya meninggal dua tahun lalu. Karena tidak punya keterampilan apapun, pekerjaan yang bisa ia lakoni hanya pekerjaan kasar yakni jadi buruh tani.
Jika ada yang mempekerjakannya, ia diberi upah Rp 50 ribu per hari. Tapi itu biasanya saat musim kopi. Saat tidak musim panen seperti sekarang, ia hanya diupah Rp 30 ribu per hari.
Jika tidak ada pekerjaan menjadi buruh di kebun orang, ia mencari sayuran pakis  hingga ke hutan dengan menempuh perjalanan selama 9 jam berjalan kaki. Sayuran pakis yang dipetiknya dijual. Hasil penjualan paling banyak Rp 20 ribu. Uang yang didapat digunakan untuk makan dirinya beserta keempat anaknya. "Aku dak ado kebun pak, jadi aku hidup jadi buruh tani. Penghasilan kadang idak cukup kareno anak aku ado empat," tuturnya.
Keempat anak Hayati yakni Riki Rizardo (16), Nurmalasari (13), Sinta Lestari (6) dan Hairul Fahmi (2,3). Karena penghasilan per hari yang ia dapat tidak menentu membuatnya Hayati hidup dalam kemiskinan. Derita itu kian berat dirasakannya, saat putra bungsunya Hairul Fahmi menderita gizi kurang dan harus dirawat di rumah sakit.
“Bingung aku pak, sudah tiga hari tidak bekerja cari uang untuk makan anak-anakku di rumah. Sedangkan aku sendiri tidak bisa bekerja karena harus menjaga Hairul," ucap Hayati sembari meneteskan air mata.
Menurut Hayati, awalnya ia hanya ingin membawa anaknya ke bidan karena kondisinya sudah sangat lemas. Oleh bidan, Hairul dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih baik. Keterbatasan biaya membuatnya ragu untuk berobat. Apalagi ketiga anaknya juga membutuhkannya untuk bertahan hidup.
Setelah dibawa ke puskesmas seminggu yang lalu, pihak puskesmas menyarankan untuk dirawat di RSUD Curup. Ia awalnya enggan untuk membawa anaknya ke RSUD. Pertimbangannya selain harus meninggalkan ketiga anaknya yang masih membutuhkannya, dirawat di rumah sakit akan membutuhkan biaya yang besar.
Namun Kepala Puskesmas Air Pikat Kecamatan Bermani Ulu, Andra, S.Kep meyakinkannya hingga akhirnya ia bersedia membawa anaknya ke RSUD Curup, Selasa (18/7) siang. Dari diagnosa dokter yang menanggani, Hairul harus menginap. Inilah yang membuat ia bingung, satu sisi tidak bisa meninggalkan Hairul sendirian di ruamh sakit. Di sisi lain ia bingung dengan apa akan memberi makan tiga anaknya yang lain karena ia tidak bekerja.
Kesedihannya semakin membuncah sebab Hairul yang sebelumnya masih bisa berbicara dan berjalan kini hanya terbaring saja. Mulutnya juga selalu terkatup rapat, kuat dugaan ia menahan rasa sakit sebab sebelumnya terjatuh dari tangga. "Kini aku cuma bisa berdoa pak, semoga ada jalan keluar. Ketiga anakku di pondok sementara dititipkan ke tetangga. Saat aku berangkat, di rumah cuma ada beras sebanyak satu kaleng dari zakat fitrah. Aku kini tidak tahu lagi kabar ketiga anakku di rumah, apakah bisa makan atau tidak. Aku sendiri di sini kadang dikasih orang makan kadang tidak," ujarnya lirih lalu diam tak mampu lagi berkata-kata. (**)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook

0 komentar:

Item Reviewed: Kisah Janda Miskin Nafkahi Empat Anak Sendirian, Si Bungsu Sampai Kurang Gizi Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai