Friday, 14 July 2017

Kekesalan Memuncak, Pedagang Datangi DPRD RL

KESAL: Para pedagang di seputaran jembatan air rambai saat menyampaikan unek-unek ke dewan terkait penutupan jalan.. Foto : Buyono, Radar Pat Petulai

CURUP RPP – Pelaksanaan proyek pembangunan Jembatan Air Rambai terus menuai masalah. Setelah sebelumnya diprotes pelanggan PDAM karena aktifitas proyek merusak pipa induk PDAM hingga mengakibatkan distribusi air ke rumah mereka terhenti. Sekarang giliran pedagang di sekitar lokasi proyek yang melayangkan aksi protes.
Sekitar 26 orang pedagang kemarin mendatangi kantor DPRD RL. Kedatangan mereka hanya disambut Ketua Komisi III Mahdi Husen, SH dan diterima di ruang rapat gabungan komisi di lantai II.
Kepada wakil rakyat, koordinator aksi, Riyanto mengadukan permasalahan penutupan jalan dan jembatan darurat di sisi jembatan. Menurut dia, akibat penutupan total jalan ini menyebabkan usaha para pedagang di sepanjang jalan MH Thamrin Kelurahan Air Rambai menjadi mati. Kerugian yang mereka derita mencapai 90 persen dibandingkan saat jalan itu masih berfungsi secara normal.
Menurut dia, proyek pembangunan itu harusnya ada sosialisasi kepada masyarakat sekitar, terutama pedagang karena jalan ini merupakan jalan protokol yang banyak pedagang.
“Kami bukannya ingin menghambat pembangunan karena itu program pemerintah. Kami hanya ingin adanya jembatan alternatif yang bisa dilalui oleh masyarakat, baik roda dua maupun pejalan kaki. Sehingga dengan adanya orang yang melintas jualan kami bisa laku,” ujarnya.
Pihaknya menyesalkan karena selama kegiatan pembangunan itu berlangsung sampai sekarang tidak pernah ada sosialisasi dari pihak kontraktor dan juga pihak manapun. “Kami sebagai pedagang disana mayoritas adalah pendatang jadi kebanyakan kami ngontrak dengan biaya kontrakan Rp 10 sampai Rp 20 juta per tahun. Dengan keadaan ini jelas kami merasa dirugikan," sambungnya.
Bahkan, lanjut dia, pada saat bulan ramadhan dan lebaran yang paling ditunggunya sebagai peningkatan omset harus dilaluinya dengan pahit. Karena barang stok yang sudah terlanjur dipesan jauh-jauh hari tidak laku. Ini semua akibat jalan ditutup tanpa ada pemberitahuan di jauh-jauh hari.
Salah seorang pedagang lainnya, Udo yang membuka butik di jalan MH Thamrin mengatakan jika memang jembatan darurat yang ditutup oleh Satlantas Polres RL kemarin itu karena dianggap tidak layak maka menjadi tugas kontraktor untuk menyediakan jembatan yang layak. "Kami masyarakat tidak mau gotong royong. Itu kewajiban pemborong, pasti ada anggarannya untuk membuat itu. Karena ini masalah perut, sudah beberapa bulan tutup istilahkan kami sudah kelaparan," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD RL, Mahdi Husen, SH menegaskan bahwa pembangunan jembatan yang dilakukan oleh Pemprov Bengkulu dengan sumber anggaran dari APBN ini gagal perencanaan. Karena beberapa aspek tidak dikajinya, padahal jembatan ini berada di jalan lintas, jalan protokol yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat.
"Saya rasa ini perencanaan di Pemprov Bengkulu gagal perencanaan, ini tidak ada pertimbangan padahal itu jalan nasional, jalan poros roda ekonomi. Nanti kita akan panggil pihak pelaksananya dan pihak terkait lainnya untuk mengaudit anggaran ini. Karena dari dana miliaran itu pasti ada peruntukannya termasuk untuk pembuatan jembatan darurat itu," kata politisi Partai Golkar itu.
Di sisi lain, Kabag Ops Polres RL Kompol Firdaus PN yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan, dalam pembangunan itu yang diutamakan adalah keamananya. Pertimbangan ditutupnya jembatan darurat itu salah satunya supaya tidak mengganggu keselamatan dan keamanan yang bekerja disana. Tetapi dengan kondisi seperti ini bisa dicari solusinya.
"Nanti akan saya koordinasikan dengan Satlantas, tapi jangan sampai membahayakan dan mengabaikan pekerja di sana. Pemungutan uang sukarela itu katanya sukarela tapi kalau ada yang tidak memberi ada kata kata sentilan hingga ada ketersinggungan. Nanti kita carikan solusinya dulu," tandasnya.
Di bagian lain, pelaksana proyek pembangunan jembatan yang dikerjakan oleh PT. Persada Bakti Mandiri, Tohari mengatakan, pihaknya siap untuk memperbaiki dan membuat jembatan darurat itu menjadi lebih kuat, kokoh dan aman untuk dilintasi. Karena saat ini kondisi jembatan darurat itu sudah miring dan dikhawatirkan bisa ambruk jika terus dilintasi sepeda motor.
"Kami siap untuk memperbaikinya, supaya jembatan daruratnya aman dan nyaman untuk dilintasi kendaraan bermotor lagi. Saya tidak tahu anggarannya berapa yang ada untuk membuat jembatan darurat itu. Saya hanya pelaksana disini, yang tahu anggarannya pasti pak Musiran selaku direktur. Secepatnya akan kita perbaiki lagi yang lebih kuat," ungkap Tohari.
Untuk membuat jembatan darurat itu, ternyata perusahaan menurut Tohari telah mengeluarkan anggaran sekitar Rp 30 juta, baik untuk material kayu maupun biaya pekerjanya. Sedangkan berdasarkan data yang diperoleh wartawan, anggaran untuk pembuatan jembatan darurat ini ada Rp 131 juta. "Saya tidak tahu mas soal anggaran itu. Intinya kami akan perbaiki lagi supaya bisa dilintasi, tapi kemarin ditutup polisi kami tidak tahu masalahnya kenapa," kilah pria asal Bengkulu Utara ini. (yon)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook

0 komentar:

Item Reviewed: Kekesalan Memuncak, Pedagang Datangi DPRD RL Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai