Friday, 14 July 2017

Didirikan Sejak Zaman Penjajahan, Masjid Muttaqin Masih Berdiri Kokoh

INILAH Masjid Muttaqin di Desa Tanjung Alam Kecamatan Ujan Mas yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda, namun masih beridir kokoh. Foto : Bambang Triyono RPP
MASJID Muttaqin terletak di Desa Tanjung Alam Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang. Konon, masjid ini sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda, bahkan menjadi saksi dalam perjuangan tentara dan masyarakat dalam melawan koloni. Lokasi masjid yang secara geografis berada di pelosok Kota Kepahiang ini dijadikan markas untuk merancang gerilya dan penyerangan.
Meski pun pada saat itu di bawah tekanan kolonial Belanda, namun masyarakat tetap berpegang teguh pada ajaran Islam dan melaksanakan salat lima waktu sebagai pertolongan dalam perjuangan. "Masjid kami ini sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda, hingga sekarang sudah 3 kali dilakukan perehapan, karena jumlah penduduk yang kian padat," terang Kepala Desa Tanjung Alam, Ferry Marzoni yang dibincangi wartawan di kediamannya, Kamis (13/7), kemarin.
Ferry memaparkan, menurut cerita dari nenek moyang warga setempat, Masjid Muttaqin ini dulunya hanya berupa musala yang dibangun dari kayu dengan ukuran 6x6 meter persegi. Di masjid inilah tempat para pejuang untuk menimbah ilmu dan melakukan rapat internal, selain melakukan persiapan penyerangan di rumah-rumah. Atas izin Allah SWT, perjuangan masyarakat dan tentara pun tak sia-sia. Sejumlah tentara kolonial Belanda dan penyusup yang mencoba masuk ke daerah ini mampu dipatahkan.
Dan setelah merdeka, persisnya pada kisaran tahun 1970-an, bangunan musala ini dibongkar lantaran sudah termakan usia. Oleh masyarakat kemudian dibangunlah masjid secara permanen dengan ukuran 6x8 meter persegi.
Dari waktu ke waktu, jumlah penduduk pun kian padat. Kemudian pada tahun 1995, masjid tersebut kembali direnovasi, ukurannya pun diperluas menjadi 14X14 meter persegi karena sudah tak lagi bisa menampung jemaah yang hendak beribadah. "Tahun ini, kita berencana membongkar bangunan masjid ini dengan dana swadaya masyarakat serta hasil infaq dan sedekah warga," ujar Ferry.
Ferry menambahkan, upaya lain yang dilakukan, setiap musim panen kopi, setiap kepala keluarga dibebankan untuk memberikan iuran wajib sebesar Rp 100.000 per kepala keluarga yang diperuntukkan pembangunan masjid. "Alhamdulillah, berkat upaya bersama-sama masyarakat akhirnya saat ini uang yang sudah terkumpul mencapai Rp 50 juta. Untuk awalnya, uang ini akan kami gunakan untuk pembuatan tiang pilar, sehingga bangunan masjid masih bisa digunakan untuk salat dan kegiatan keagamaan lainnya. Setelah itu baru akan menyusul pembuatan menara," terang Ferry.
Terkait pembongkaran masjid, Ferry menjelaskan bahwa alasan utamanya adalah karena pada saat awal dibangun, arah kiblatnya diduga hanya menerka-nerka saja. Bahkan belakangan, tim dari Pemda Kepahiang dan Provinsi Bengkulu telah menentukan arah kiblat yang benar menggunakan peralatan canggih dan terpercaya. Sebab ternyata, selama ini arah kiblat masjid mengalami pergeseran. (wsa)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook

0 komentar:

Item Reviewed: Didirikan Sejak Zaman Penjajahan, Masjid Muttaqin Masih Berdiri Kokoh Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai