Monday, 3 April 2017

(Liputan Khusus) Penculikan Anak, Antara Hoax dan Fakta

Ilustrasi
KABAR penculikan anak-anak belakangan ini sedang menghantui masyarakat Kabupaten Rejang Lebong (RL). Banyak yang menyebut isu itu hoax belaka. Namun yang mengejutkan, upaya penculikan ternyata benar-benar ada yang terjadi.

Kejadian nyata ini terjadi Sabtu (25/3) sekira pukul 18.15 WIB. M. Raza Alfarizi (3,5) buah hati pasangan Lisa (27) dan Putra (27) warga Dusun 3 Desa Belitar Muka Kecamatan Sindang Kelingi nyaris diculik enam orang tidak dikenal menggunakan mobil jenis APV warna hitam.

Saat itu korban bersama ibunya baru pulang dari menagih arisan Sembako. Ketika melintas di depan masjid Al- Munawwarah, sebuah mobil APV warna hitam berhenti tak jauh di depan mereka. Sopir mobil melihat kearahnya dengan tatapan tajam. Melihat itu ia merasakan firasat buruk. Tak lama kemudian, dua orang pria turun dari dalam mobil dan langsung menyeberang jalan ke arah mereka. Bergegas Lisa mengajak anaknya untuk kembali berjalan. Dua orang pria yang memiliki tubuh tinggi besar membuntuti mereka dari belakang.

Tak lama kemudian, salah seorang pelaku langsung menarik bahu kiri anaknya. Ia berupaya mempertahankan dengan memegangi tangan Raza yang berada disebelahnya. Aksi tarik menarik pun terjadi. Saat itu kondisi jalan sepi sebab warga banyak yang sedang salat di masjid.

Beruntung ada tetangganya Rendra (20) yang hendak ke warung melihat kejadian itu. Sadar aksinya dilihat orang lain, kedua pelaku langsung berlari menyeberang jalan dan masuk ke dalam mobil lalu langsung tancap gas ke arah Curup. Setelah mobil pelaku pergi barulah ia bisa mengeluarkan suaranya. "Waktu aku berupaya mempertahankan anak aku. Tapi meski akulah teriak, suaro aku tidak keluar, cak nyo pelaku sudah menghipnotis aku melalui pandangan mata," ungkap Lisa.

Seperti sudah terdoktrin bahwa anak yang hilang dari rumah erat kaitannya dengan aksi penculikan. Saat dua orang remaja putri yang masih duduk di kelas VII salah satu SMPN, yakni De (14) dan sepupunya Fi (14) tidak pulang semalam, masyarakat langsung heboh dan menduga keduanya hilang diculik. Dalam sekejab, foto keduanya sudah meramaikan dinding facebook beberapa orang yang menyebarkannya. Keduanya ditemukan Senin (27/3) sore dan ternyata malam itu mereka menginap bersama dua orang pemuda yang tak lain pacar mereka sendiri.

Informasi tentang penculikan anak cepat diterima masyarakat karena beredar luas di media sosial. Ada yang menyebut penculik menyamar sebagai orang gila, pengemis, penjual terompet dan lain sebagainya dengan berbagai modus. Sehingga setiap orang yang bertindak seperti diisukan di atas mendapatkan kecurigaan dari masyarakat.

Menyikapi fenomena ini, Kapolres Rejang Lebong AKBP Napitupulu Yogi Yusuf, SH, SIK melalui Paur Humas Ipda Ahmad Gunawan, SH didampingi Kasat Reskrim AKP Chusnul Qomar SH, SIK menegaskan terlepas isu penculikan anak hoax atau bukan, yang pasti semua pihak, terutama para orang tua harus waspada. "Kalau dibilang hoak, beberapa waktu lalu seorang anak di Kecamatan Sindang Kelingi nyaris menjadi korban penculikan. Untuk itu saya himbau kepada masyarakat Rejang Lebong untuk berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan agar kejadian serupa tak terulang terjadi," imbau Chusnul.

Untuk menghindari dan melindungi anak dari aksi penculikan, orang tua harus melakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Dengan mengajarkan kepada anak untuk waspada kepada orang yang baru dikenal. Orangtua juga harus mengajarkan untuk tidak langsung percaya pada orang yang baru dikenal, meskipun orang tersebut memberikan sesuatu, misalnya makanan atau mainan. Ajarkan anak untuk menolak pemberian dari orang asing, terutama ketika tidak ada ayah atau ibu di sampingnya. Lakukan diskusikan hal-hal ini pada anak, agar anak sudah memahami apa yang harus mereka lakukan untuk menghindari aksi penculikan sejak dini. Selalu mengingatkan anak untuk berada di samping orang tua jika bepergian di tempat keramaian. Ajarkan kepada anak apa yang harus dilakukan bila tersesat atau terpisah dari orang tua. Apabila anak ingin pergi ke suatu tempat tanpa orangtua, harus ada orang dewasa yang mendampingi, misalnya kakak atau orang yang bisa dipercaya. Anak harus dibiasakan untuk bermain dengan teman-temannya. Terutama bila sedang di luar jangkauan orang tua. Apabila jam pulang sekolah sudah tiba, ajarkan anak untuk menunggu penjemput sambil bermain dengan teman-temannya. Serta membiasakan anak untuk selalu bercerita tentang apapun yang mereka alami.
"Sebagai orang tua kita harus selalu memiliki waktu dan perhatian untuk mendengarkan apa saja yang anak alami hari ini. Dengan begitu anak terbiasa bercerita, terbuka dan orang tua tahu kondisi di sekitar lingkungan anak. Tak lupa jalin komunikasi dengan pihak sekolah dan masyarakat agar bisa saling bekerjasama untuk menjaga anak-anak dari bahaya penculikan," jelasnya. (wsa/yon)


Wabup: Tanggung Jawab Bersama


KETAKUTAN adanya kasus penculikan tersebut juga langsung mendapatkan respon dari Wakil Bupati RL H Iqbal Bastari S.Pd MM. Menurutnya keselamatan dan masa depan anak merupakan tanggung jawab bersama. Mulai dari orang tua, guru dan juga lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, wabup berharap ada atu tidaknya aksi penculikan tersebut pengawasan terhadap anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus tetap ditingkatkan. "Memang berbagai informasi terkait penculikan ini sangat menghantui masyarakat karena banyak menyebar melaui media sosial. Namun saya rasa terlepas dari benar atau tidaknya adanya aksi itu, pengawasan terhadap anak harus tetap ditingkatkan. Karena mereka masa depan kita juga," ungkap wabup.

Maraknya issu terhadap aksi penculikan itu juga menimbulkan traumatis bagi masyarakat, baik orang tua maupun anak-anaknya. Siapapun yang dicurigai bisa langsung mengarah pada pelaku penculikan. Namun Wabup berharap masayarakat bijak, tetap waspada namun harus bijaksana dalam mengambil keputusan untuk menyimpulkan semua kecurigaan.
"Waspadai terharap orang asing, jangan mudah percaya dengan iming-iming yang ditawarkan. Karena kita belum tahu sepenuhnya apa niat seseorang tersebut, namun tidak bisa juga kita sembrono menyimpulkan. Harus ada kebijaksanaan kita dalam berfikir dan menilai seseorang. Pesan saya selalu waspada," tukasnya beberapa waktu lalu. (yon)

Sekolah Perketat Pengawasan


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Rejang Lebong (RL) H. Nahdyatul Hukmi, M.Pd melalui Sekretaris Dikbud Drs. Noprianto, MM meminta agar pihak sekolah memperketat pengawasan terhadap siswa. Menurut dia, pihak sekolah juga bisa melakukan pengawasan dengan cara berkoodinasi dengan para wali siswa, minimal pihak sekolah memiliki nomor handphone (HP) wali siswa. Sehingga bisa mengetahui apa yang dilakukan siswa jika siswa tidak berada di sekolah.
Seperti contoh, jika seorang siswa yang tiba-tiba mau melakukan kerja kelompok dengan teman sekelasnya dan belum meminta izin kepada orangtua. Tentnya orangtua bisa menghubungi pihak sekolah untuk menanyakan tentang keberadaan anaknya. "Sebenarnya komunikasi yang baik antara orangtua dan sekolah itu bisa membuat anak lebih memahami hal yang akan membahayakan mereka," lanjutnya. (ymr)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook

0 komentar:

Item Reviewed: (Liputan Khusus) Penculikan Anak, Antara Hoax dan Fakta Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai