Monday, 6 March 2017

Akhir Penantian Panjang RSUD Jalur Dua

SIAP BEROPERASI: Setelah terbengkalai belasan tahun, bangunan RSUD di jalur dua akhirnya kembali direhab dan dalam waktu dekat segera dimanfaatkan.

SEJAK dibangun tahun 2003 silam, bangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Curup di Durian Depun, Merigi Kabupaten Kepahiang atau di kawasan jalur dua belum pernah dimanfaatkan sama sekali. Karena dibiarkan terbengkalai hingga belasan tahun, membuat fisik sebagian besar bangunan banyak yang hancur.

Pembangunan RSUD jalur dua terjadi pada masa kepemimpinan pertama DR. (HC) H. Ahmad Hijazi, SH, M.Si sebagai Bupati Rejang Lebong. Bersumber dari Asean Development Bank (ADB), tahap awal bangunan berhasil diselesaikan. Namun setelah masa kepemimpinan Hijazi berakhir dan digantikan dengan kepemimpinan Suherman, bangunan RSUD di jalur dua mulai dilupakan. Hingga periode kedua kepemimpinan Suherman, tetap tidak ada tanda-tanda pembangunan akan dilanjutkan.

Malah masa depan bangunan itu sempat nyaris hilang. Sebab Bupati Suherman lebih memilih merehab bangunan RSUD yang berada di jalan Basuki Rahmad, Dwi Tunggal. Karena dibiarkan tidak terurus, beberapa bagian bangunan perlahan rusak. Mulai dari atap, kusen, pintu, jendela hingga lantai. Semak belukar bahkan menutupi hampir seluruh bangunan dengan ketinggian mencapai lebih dari 1 meter.

Berbagai kisah mistis pun berseliweran karena kondisinya yang menyeramkan. Bahkan pada awal tahun 2014 lalu lokasi ini juga pernah digunakan untuk lokasi syuting tayangan berbau mistis dari sebuah televisi swasta nasional. Lahannya yang luas juga sempat dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk menyemai bibit sengon dan bibit kelapa sawit serta kegiatan pertanian lainnya.

Namun cerita kelam mengenai RSUD Curup Jalur Dua akan berakhir mulai tahun ini. Di awal kepemimpinan keduanya, Hijazi kembali melakukan rehab kepada bangunan yang mangkrak puluhan tahun tersebut. Kondisinya sekarang kembali layak untuk menjadi sebuah rumah sakit yang representatif.

Menurut Direktur RSUD Curup, drg Asep Setia Budiman, RSUD Jalur Dua memiliki luas lahan 5,7 hektar sehingga bisa dilengkapi dengan berbagai fasilitas layaknya rumah sakit bertaraf nasional. Rencananya rumah sakit ini akan berstatus RSUD rujukan regional untuk Kabupaten Kepahiang dan Lebong bertype B.
"Beberapa keunggulan RSUD Curup di Jalur Dua jika dibandingkan dengan RSUD Curup sekarang antara lain lahannya lebih luas, tidak bising karena jauh dari pemukiman penduduk, IPALnya bisa lebih jauh dan penyerapannya maksimal karena tidak dekat pemukiman serta fasilitas gedung tentu akan lebih baik. Karena pemerintah bisa memiliki perencanaan yang lebih matang dan kesiapan dana yang lebih besar," jelas Asep.

Dengan bakal menjadi RSUD rujukan regional bertype B, sudah pasti RSUD ini juga bakal didukung oleh sarana dan prasarana dari Kementerian Kesehatan. Termasuk nantinya untuk penambahan tenaga kesehatannya, seperti dokter spesialis. RSUD yang rencananya untuk ruang pelayanan bakal dibangun 4 lantai ini juga bakal dilengkapi dengan fasilitas gedung rumah singgah bagi keluarga pasien, sehingga akan lebih memudahkan saat harus rawat inap.

Kemudian dibangun kantin permanen, perumahan dokter dan perawat, klinik, basement dan beberapa sarana pendukung lainnya. "Surat izin pemanfaatan dari PU sudah ada tapi pemindahannya menunggu instruksi bupati. Kita pindahannya secara bertahap, tahap awal ini untuk perawatan anak dan Kebidanan. Kemudian IGD kebidanan dan anak, Poli anak dan poli kebidanan. Nanti yang lain menyusul seiring dengan proses penambahan gedungnya," tandasnya. (yon)

Butuh Anggaran Hingga Rp 400 Miliar


BUPATI RL, DR (HC) H. Ahmad Hijazi, SH, M.Si menegaskan untuk membangun RSUD Curup di Jalur Dua itu Pemkab RL harus dengan sistem multiyears. Mengingat butuh anggaran yang tidak sedikit untuk menyelesaikannya. Bahkan bupati memperkirakan, hingga selesai setidaknya membutuhkan anggaran sekitar Rp 300 sampai Rp 400 miliar.

Akan tetapi, bupati menegaskan ia tidak akan membangun fasilitas RSUD sebanyak itu dari APBD RL. Melainkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN). "Kalau melihat dari layoutnya itu butuh anggaran sekitar Rp 300 Miliar sampai Rp 400 Miliar. Jadi harus multiyears, tapi saya tidak mau pakai APBD, tapi pakai APBN," ujarnya.

Pemindahan RSUD dari Dwi Tunggal ke Jalur Dua ini menurutnya juga tidak lain untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, serta memberikan tempat pelayanan yang lebih baik lagi, karena bangunan RSUD ini tentu akan lebih baik dan memenuhi standar dibandingkan dengan bangunan di Dwi Tunggal.
"Di sana sudah pasti lahannya lebih luas, nanti ada tiga gerbang di depan RSUD itu dan parkir mobil tidak ada yang berserakan diatas, tapi begitu masuk langsung ke basement. Diatasnya kita akan bangun perumahan dokter, sehingga nanti dokternya lebih dekat dengan tempat kerjanya. Kemudian kita sediakan fasilitas klinik, kantin dan juga rumah singgah. Jadi warga yang dari jauh tidak bingung lagi untuk menginap," pungkasnya. (yon)

NJOP Tanah Naik


"Sudah naik semua mas, apalagi rumah sakit inikan akan difungsikan. Kalau benar-benar difungsikan tentu harganya akan semakin naik lagi. Karena usaha yang ada disekitar RSUD sudah pasti akan ramai. Alhamdulillah kalau sudah bisa dipakai RSUD-nya daripada mangkrak," katanya
 
DAMPAK akan mulai difungsikannya RSUD Curup Jalur Dua ternyata juga mempengaruhi Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah di sekitarnya. Seperti dikatakan Junaidi (45) warga Merigi yang ditemui Sabtu (4/3) dikebun tidak jauh dari RSUD Jalur Dua.

Menurutnya, dulu sekitar tahun 2014, sebelum ada tanda-tanda RSUD ini akan difungsikan harga kaplingan hanya pada kisaran Rp 25 juta hingga Rp 40 juta, untuk ukuran 10 meter x 20 meter. Namun belakangan ini, semenjak Pemkab RL melakukan rehab pada akhir 2016 lalu, harga tanah melonjak tajam. Sekarang kaplingan di lokasi ini sudah diatas kisaran Rp 35 juta yang jauh dari jalan utama hingga Rp 60 juta per kapling untuk yang dekat dengan jalan lintas.
"Sudah naik semua mas, apalagi rumah sakit inikan akan difungsikan. Kalau benar-benar difungsikan tentu harganya akan semakin naik lagi. Karena usaha yang ada disekitar RSUD sudah pasti akan ramai. Alhamdulillah kalau sudah bisa dipakai RSUD-nya daripada mangkrak," katanya.

Hal senada disampaikan oleh Poniyem (42) yang ladangnya hanya berjarak beberapa ratus meter dari gedung RSUD. Menurutnya, dulu kawasan ini paling susah jika akan menjual tanah atau kebun. Karena orang beranggapan bahwa di lokasi ini sulit mendapatkan air. "Sekarang menjual tanah di sini mudah sekali mas, tapi yang mau jual banyak ditahan. Nunggu RSUD berfungsi dan sudah pasti harga tanah akan terus naik," singkatnya. (yon)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook
Item Reviewed: Akhir Penantian Panjang RSUD Jalur Dua Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai