Tuesday, 14 February 2017

Pleci, Si Imut yang Tengah jadi Primadona

Digandrungi Semua Kalangan, Grup Sudah 2 Ribu Anggota 

PLECI MANIA: Para pecinta burung pleci saat tengah berkumpul di kediaman Dede Candra di Dwi Tunggal kemarin.
WARNANYA yang cantik serta kicauannya yang merdu membuat burung pleci makin digandrungi masyarakat Kota Curup. Mulai dari anak-anak, remaja, kalangan dewasa hingga orang tua. Tak heran pleci mania atau komunitas pecinta burung pleci di kota inipun terus menjamur. 
BAMBANG TRIYONO, Dwi Tunggal

Rumah Dede Candra (35) di RT 1 RW 3 di Jalan Santoso Kelurahan Dwi Tunggal Senin (13/2) sore, pukul 17.30 WIB tampak dipenuhi sangkar burung. Sangkar-sangkar itu bergelantungan pada sebatang bambu panjang yang dipasang melintang di bawah plafon teras. Beberapa orang terlihat tengah berbincang serius. Sayup-sayup terdengar mereka tengah memperbicangkan soal perawatan pleci.

Obrolan mereka sempat terhenti saat wartawan koran ini datang. Setelah memperkenalkan diri, Dede, sang pemilik rumah dengan senyum ramah langsung mempersilahkan wartawan koran ini duduk. “Memang tiap sore selalu ramai mas. Di sini sudah menjadi tempat berkumpul pleci mania,” ujar Dede membuka percakapan. 

Menurut Dede, tiap hari mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB rumahnya selalu ramai dikunjungi pecinta burung pleci. Bahkan pada hari Minggu biasanya sudah ramai sejak pukul 10.00 WIB hingga sore hari. Kegiatan ini selain bisa menjadi wadah menyalurkan hobi sesama pleci mania, juga menjadi momentum untuk menjalin silahturahmi. “Minimal teman-teman makin banyak. Sebab kata orang banyak teman, banyak rezeki,” seloroh Dede sembari tertawa.

Ia sendiri mengaku sudah sejak lama menjadi pecinta dengan burung pleci. Bahkan sudah menjadi kerja sampingan. Dulunya ia sering mengirim burung pleci ke pulau Jawa, sebab di Curup kurang diminati. Namun, sejak 6 bulan terakhir ini penjualan ke Jawa sudah tidak dilakukannya lagi sebab pecinta burung pleci di Curup sudah sangat banyak. Malah sekarang ia ke Jawa bukan untuk mengirim tapi malah membeli burung pleci untuk dibawa ke Curup. Biasanya burung pleci yang ia beli di Jawa jenis pleci Garut. “Untuk harga yang setengah jadi mencapai Rp 300 ribu,” ungkapnya.

Usai berbincang dengan pemilik rumah, wartawan koran ini lantas mencoba melihat satu per satu sangkar burung di sana sembari ditemani salah seorang pecinta burung pleci bernama Dendi Lesmana (37) warga Kelurahan Talang Benih.

Dikatakan Dendi, burung pleci yang berkicau hanya jenis jantan. Sedangkan jenis betina tidak berkicau. Sambil menikmati sebatang rokok, Dendi menjelaskan jika sebenarnya komunitas Pleci Mania Curup sudah berdiri sejak dua tahun lalu. Kini grup komunitas di facebook sudah beranggotakan 2 ribu orang. Ia sempat mengikuti kontes burung pleci di lapangan BC Iskandar Ong Kelurahan Talang Rimbo Baru. “Saat itu penggemarnya sangat banyak,” ungkapnya.

Menurut dia, pecinta burung pleci saat ini sudah ada di hampir seluruh desa dan kelurahan. Tingginya minat terhadap burung ini, selain perawatannya yang mudah, harganya juga sangat terjangkau. Untuk jenis pleci lokal, hanya berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per ekor. “Memang dibandingkan burung pleci asal Jawa, suara pleci lokal kalah. Tapi itu juga sesuai dengan harganya, bisa mencapai ratusan ribu rupiah," tandas. (**)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook
Item Reviewed: Pleci, Si Imut yang Tengah jadi Primadona Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai