Sunday, 19 February 2017

Malang Nasib Natan, Gagal Dioperasi, Bertahan Hidup dengan Bantuan Tabung Oksigen

Kini Tertahan di Jakarta


Bayi Natan mendapat perawatan intensif
SUNGGUH malang nasib Natan Fairel Afghori (2 bulan). Bayi penderita Transposisi Grade Ateri (TGA) itu harus tertahan di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta karena tidak memiliki ongkos pulang ke RL. Bukan hanya itu, penyakitnya juga gagal dioperasi.

BUYONO, Curup

Kabar menyedihkan ini diketahui ketika wartawan koran ini menghubungi ibu Natan, Sri Suryani (36), Jumat (17/2) siang melalui sambungan telepon. Ketika itu suara Sri terdengar seperti menahan tetesan air mata. Ia menceritakan bahwa kondisi Natan saat ini semakin memburuk. Kesehatanya tidak stabil, apalagi hasil laboratorium itu positif bahwa ada penyakit lain yang menyertai penyakit pembuluh darah pada jantung terbalik Natan. Yakni adanya kelainan genetik atau kromosomnya, sehingga Natan tidak bisa dioperasi.

Mirisnya lagi, meskipun pihak rumah sakit sudah memintanya untuk dibawa pulang ke rumahnya di Gang Mawar, jalan Hasim Azhari Kelurahan Sukaraja Kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejang Lebong. Natan belum juga dibawa pulang lantaran orang tuanya sudah tidak memiliki uang lagi.
"Kami tidak memiliki uang lagi untuk ongkos, untuk makan kami di sini saja sudah sulit. Karena kami sudah di sini sejak 24 Januari lalu dan tidak ada penghasilan sama sekali," ujar Sri.

Belum lagi setelah tidak bisa di operasi Natan juga harus hidup dengan bergantung pada tabung oksigen. Sehingga Sri harus membeli oksigen untuk membantu Natan bernafas setiap waktu. Tentunya itu suatu hal yang nyaris mustahil dapat mereka lakukan jika tanpa ada bantuan dari para dermawan.

Karena Sri hanyalah seorang ibu rumah tangga dan suaminya Riko (34) hanya seorang kuli bangunan yang selama ini merantau ke Kota Lubuklinggau dan sejak januari lalu sudah mendampingi Natan di Jakarta. "Belum tahu kapan pulang, kami berharap ada bantuan untuk kami bisa pulang. Setelah itu tidak tahu, bagaimana beli tabung oksigen untuk dedek (Natan,red), kami tidak punya uang," ungkap Sri dengan suara semakin lirih.

Hingga kemudian handphone diberikan kepada suster yang menangani Natan, namanya Euies. Ia mengatakan bahwa harga oksigen ini lumayan mahal. Untuk ukuran lebih dari 20 liter itu harganya mencapai Rp 1,2 juta. Sedangkan masa penggunaanya tergantung dengan konsumsi oksigen pemakainya.

Ia menyontohkan, jika dalam satu menit Natan memerlukan asupan oksigen sebanyak 1 liter, berarti Natan membutuhkan 60 liter oksigen per jam. Jadi dalam sehari semalam atau 24 Natan perlu oksigen 1.440 liter. Jika dibagi 20 liter per tabung, artinya Natan membutuhkan 72 tabung per hari atau jika per tabung dihargai Rp 1,2 juta, Natan butuh biaya Rp 86.400.000 per hari hanya untuk membeli oksigen.
"Dedek ini belum bisa lepas dari oksigen, jadi disini selalu menggunakan oksigen mas. Kalau oksigennya dilepas maka nafas dedek akan sesak. Jadi memang untuk membantunya bernafas harus menggunakan oksigen. Harganya memang mahal, tapi itulah yang dibutuhkan dedek. Kasihan banget kondisinya sekarang," singkat Euies.

Sungguh tragis nasib bocah ini, kini Ia hanya bisa terbaring lemas di ruang perawatan lantai VI Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Ia butuh uluran tangan para dermawan untuk menyambung hidupnya. Karena, dengan keterbatasan ekonomi, orang tua Natan tidak bisa berbuat banyak, selain hanya berdoa dan selalu berusaha dengan harapan Allah SWT mengirimkan penolong untuk mereka. Jika anda mau berbagi rezeki untuk membantu Natan pulang ke RL, bisa menghubungi nomor Sri, Ibu Natan di nomor 0812 7111 2218. Sementara bagi para dermawan yang hendak menyalurkan bantuan bisa langsung ke rekening BRI no 5624-01-015958-53-2 atas nama Sri Ririn Suryani. (**)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook
Item Reviewed: Malang Nasib Natan, Gagal Dioperasi, Bertahan Hidup dengan Bantuan Tabung Oksigen Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai