Monday, 27 February 2017

Gaduh Rencana Pemindahan TPU

Lipsus Radar Pat Petulai
RENCANA Pemkab Rejang Lebong (RL) akan memindahkan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Talang Rimbo Baru yang berada di jalan Letjen Soeprapto menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Meski demikian, pemkab tampaknya masih tetap akan menjalankan rencana ini. Terbukti, anggaran pembelian lahan lokasi TPU baru sudah dianggarkan di APBD 2017. Malah ancang-ancang lokasi sudah ditentukan yakni di kawasan Talang Rimbo Lama atau kawasan jalur dua.

Rusma (63) warga Kelurahan Talang Rimbo Baru saat ditemui di area TPU Talang Rimbo Baru, Jumat (24/2) mengaku sangat tidak setuju dengan rencana tersebut. Terlebih lagi, tanah makam itu bukanlah tanah milik pemerintah Kabupaten RL, akan tetapi tanah wakaf dari beberapa warga. Diantaranya dari keluarga almarhum Manaf dan almarhum Dodon yang juga dimakamkan di sana.
"Saya tidak setuju, di sini banyak keluarga saya. Kalau memang mau membuat masjid itu masjid di depan makam juga belum jadi. Bagusin saja masjid itu, pokoknya sampai kapanpun saya tidak setuju kalau sampai makam ini dipindahkan. Cucu saya baru saja 100 hari, kalau sampai dibongkar itu tidak mungkin, masih sangat sedih kami mengingatnya di masa hidup," katanya sambil menangis.

Hal senada disampaikan Evi, warga Kelurahan Talang Rimbo Baru yang ditemui wartawan koran ini sedang nyekar makam anaknya juga mengaku keberatan jika makam itu akan dipindahkan. Karena selain anaknya yang baru meninggal pada 31 Desember 2015 lalu, beberapa anggota keluarganya juga ada yang dimakamkan di sana.

Jika harus dipindahkan ke Jalur Dua menurutnya, pemerintah tentu akan mengeluarkan biaya yang cukup besar. Mengingat jumlah makam di TPU ini sudah ribuan orang dan tentu setiap ahli waris akan meminta kondisi makam yang dipindahkan sama seperti yang ada di situ. Belum lagi rencana pemindahan ke Jalur Dua Keluraha Talang Rimbo Lama itu terlalu jauh bagi masyarakat sekitar TPU ini.
"Mungkin akan lebih baik kalau makam yang ini ditutup, jangan ada penambahan lagi dan pemerintah beli lagi lapangan dibelakang itu (belakang TPU,red) yang biasa dipakai untuk adu burung. Itu juga luas, jadi yang ini tidak perlu dipindahkan," saran Evi.

Berbeda dengan pendapat Ediyansah (36) warga Kelurahan Air Rambai, ia mengaku mendukung rencana Pemkab RL ini meskipun ada saudara perempuannya yang juga dimakamkan di TPU tersebut. Karena menurut Edi, rencana pemerintah itu bertujuan agar makam itu menjadi layak dan disitu akan dibangun sebuah tempat ibadah.
"Kalau memang agar TPU itu menjadi layak menurut saya itu bagus, dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Karena makna sebenarnya ketika sudah meninggal itu yang tertinggal hanyalah jasad. Sedangkan ruhnya sudah menghadap sang pencipta dengan segala ketentuannya. Pemindahannyapun menurut saya juga cukup dengan tanah kuburnya saja karena manusia yang mati akan kembali menjadi tanah," singkatnya.

Kemudian, salah satu tokoh masyarakat RL, Djafrion Djanib beberapa waktu lalu mengungkapkan historis makam itu sangat luar biasa. Sehingga sudah pasti bakal menimbulkan pro dan kontra di masyarakat ketika akan dipindahkan. Secara pribadi, Djafrion berpendapat, rencana pemkab untuk membangun sebuah icon religius berupa miniatur Masjidil Haram itu sudah sangat bagus dan tepat seiring dengan program RL religius.

Akan tetapi, Djafrion menyarankan agar pemerintah sebaiknya mencari lahan lain untuk mewujudkan niatnya itu. "Nilai historis makam yang sudah ada sejak saya masih kecil itu sangat tinggi. Jadi sebaiknya kalau memang mau membuat icon religius agar mencari tempat lainnya. Kalau dipaksakan, sudah pasti bakal menimbulkan pro dan kontra di masyarakat," saran Djafrion. (yon)


Bangun Icon RL Kota Religius


Bupati RL DR (HC) H. Ahmad Hijazi, SH, M.Si beberapa waktu lalu menjelaskan, rencana pemindahan ini dilakukan karena makan tersebut sudah sangat tidak layak lagi akibat sudah sangat penuh. Sehingga pemerintah berencana memindahkan TPU itu ke lahan yang lebih layak, lebih luas dan tidak bertumpuk-tumpuk seperti saat ini.
Setelah dipindahkan, lokasi ini nantinya akan dijadikan tempat manasik haji lengkap dengan masjid raya. Hingga desainnya menyerupai miniatur Masjidil Haram. Inilah yang kemudian nantinya akan menjadi Icon Rejang Lebong sebagai kota religius.
"Itu sudah pasti, akan kita pindahkan ke tempat lain yang lebih layak. Tapi tentu kita sosialisasikan dulu dengan masyarakat, karena kondisi makam itu sudah tidak layak lagi. Kemudian kita akan jadikan tempat miniatur masjidil haram, jadi nanti bisa manasik haji di sana dan menjadi icon Rejang Lebong sebagai kota religius," ungkap bupati.

Sementara itu, menurut Asisten I bidang Kesra dan Pemerintahan, Pranoto Majid, SH M.Si, saat ini sosialisasi mengenai pemindahan makam itu tengah dilakukan oleh lurah, kades dan camat. Karena masyarakat yang menguburkan anggota keluarganya disitu tentu bukan hanya warga Kelurahan Talang Rimbo Baru saja, sehingga sosialisasi dilakukan secara menyeluruh.

Dengan harapan masyarakat bisa mendukung rencana baik pemerintah tersebut. Namun, Pranoto mengakui bahwa munculnya pro dan kontra di masyarakat dengan rencana itu pasti ada dan menjadi hal yang wajar. Akan tetapi, pemerintah akan mencoba memberikan arahan dan penjelasan terkait rencana pemindahan makam itu.
"Kita tidak akan memaksakan diri, kita perlu menjaring informasi dari masyarakat. Jadi nanti kita akan urun rembuk dengan semua pihak terkait, termasuk perwakilan ahli waris makam itu sendiri. Harapan kami masyarakat bisa mendukungnya, karena rencana ini bertujuan baik, supaya TPU yang sudah penuh sesak itu menjadi layak dan disana dibangun sebuah masjid raya yang megah," kata Pranoto saat ditemui diruang kerjanya Kamis (23/2).

Apa Pendapat Anggota Dewan?


Namun pandangan berbeda disampaikan para wakil rakyat. Seperti dikatakan oleh Ari Wibowo SE. Anggota fraksi PAN itu mengatakan, sebaiknya pemindahan TPU Talang Rimbo Baru tidak dilakukan. Ari menyarankan sebaiknya untuk efesiensi anggaran dan juga meminimalisir timbulnya kegaduhan di masyarakat.

Sebaiknya pemerintah merenovasi Masjid Agung Baitul Makmur, di jalan S Sukowati yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari Rumah Dinas Bupati RL dan 500 meter dari Rumah Dinas Wabup RL di jalan Nusirwan, Dwi Tunggal. Karena menurut Ari masih banyak lahan kosong di sekitar Masjid Agung Baitul Makmur jika pemerintah berniat menjadikan miniatur Masjidil Haram.
"Di sana bisa dikosongkan lagi beberapa bangunan seperti sekolah dan aula Islamic Cente, bisa dipindahkan ke tempat lain. Kemudian dibangun miniatur ka'bah untuk manasik haji dan seluruh bangunan pendukungnya hingga menyerupai minatur Masjidil Haram. Soal makam, pemerintah bisa membeli tanah kosong dibelakang makam itu, makam yang sekarang jangan ditambah lagi, ditutup," ungkap anggota DPRD RL dua periode ini.

Pendapat Ulama


Terpisah, salah satu ulama di RL, Drs Ngadri Yusro berpendapat, jika dilihat dari sisi agama. Pemindahan makam tersebut boleh dilakukan. Asalkan memang tidak ada pilihan lain, mendesak dan tidak menimbulkan konflik sosial. Akan tetapi, jika bakal menimbulkan konflik sosial, sebaiknya pemindahan makam bisa dikaji ulang untuk dipertimbangkan.
"Dari sisi agama boleh-boleh saja jika akan dilakukan pemindahan makam, tidak dilarang. Apalagi memang sudah mendesak, atau tidak ada pilihan lain dan tidak menimbulkan konflik sosial," ungkap Ngadri.

Lebih lanjut, Ngadri menjelaskan, bahkan dalam agama islam juga memperbolehkan dalam satu liang dikubur orang lebih dari satu seperti penguburan massal. Atau boleh juga dalam satu liang, digali berulang kali untuk mengubur jenazah lebih dari satu orang yang masih memiliki hubungan keluarga. Misalnya, ada seorang ibu sudah meninggal beberapa tahun, kemudian adiknya meninggal. Lahan makam sudah penuh, bisa dikubur dengan menggali makam ibunya dan menguburkannya di liang tersebut.
"Dari sisi agama memang seperti itu, tidak ada larangan untuk memindahkan makam. Karena jika kondisinya terdesak misalnya ada musibah bencana alam yang merenggut banyak korban jiwa, bisa saja dilakukan penguburan massal. Tentu dengan berbagai pertimbangan dan tetap tidak ada kewajiban dalam pengurusan mayat yang ditinggalkan," pungkas pengurus MUI RL itu. (yon)


Makam Dodon hingga Nenek Titi Kamal 


MENURUT salah satu warga yang bertugas membersihkan sekaligus penggali makam di TPU Talang Rimbo Baru, makam yang sudah berusia puluhan tahun ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir para orang-orang tersohor di bumei pat petulai.

Mulai dari istri Bupati RL DR (HC) H Ahmad Hijazi SH M,Si, Almh Hj Beka, yang meninggal dunia beberapa tahun lalu. Kemudian juga ada makam Alm Jamaludin atau yang lebih dikenal sebagai Dodon, yang namanya hingga kini diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Kelurahan Jalan Baru, dengan sebutan Gang Dodon. Bahkan nenek artis nasional Titi Kamal juga dimakamkan disini.
"Saya di sini hanya membersihkan makam saja, tanpa ada honornya mas jadi tolong jangan tulis nama saya. Saya membersihkan dengan ikhlas dan tidak tahu menahu tentang rencana pemindahan makam ini. Memang di sini ada makam istri bupati sekarang, kemudian puyang gubernur Ridwan Mukti yang namanya Dodon dan nenek Titi Kamal juga dimakamkan di sini. Kata warga Mantan Bupati RL H Wahidun Djang Jaya juga dimakamkan disini, tapi saya tidak ingat yang mana," ungkapnya.

Pria paruh baya yang sudah bertugas selama 5 tahun terakhir di TPU itu menambahkan, jika dihitung secara keseluruhan diperkirakannya sudah lebih dari 2.000 orang yang dimakamkan di TPU Talang Rimbo Baru. Bahkan sejak dua bulan terakhir ini sudah ada sekitar 20 orang meninggal dimakamkan di sini.

Bukan hanya dari warga Talang Rimbo Baru, tapi juga dari beberapa kelurahan atau desa tetangga. Kemudian, saat wartawan koran ini mengunjungi makam, tampak beberapa makam dalam kondisi tidak terawat, dipenuhi semak belukar. Kondisinya memang tidak layak lagi, sangat padat, bahkan untuk menuju bagian tengah lokasi TPU itu harus menginjak-nginjak nisan makam, karena tidak ada lagi ruang untuk kaki berjalan.
"Itu yang semaknya tinggi karena keluarganya ada di Jawa atau kota lainnya yang jauh, mereka hanya pulang setahun sekali saat lebaran saja. Kalau keluarganya dekat sini, setiap Jumat atau sebulan sekali pasti dibersihkan. Memang sudah tidak layak lagi, hampir setiap menggali makam ditemukan tulang manusia yang dimakamkan lebih dulu," katanya sambil membenarkan kotak infaq di depan makam. (yon)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook
Item Reviewed: Gaduh Rencana Pemindahan TPU Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai