Wednesday, 11 January 2017

Menelisik Fenomena Perempuan Penyuka Sesama Jenis di Kota Curup

Sasar Kalangan Mahasiswi, Seperti Pedofilia Selalu Mencari Mangsa

 
Ilustrasi
JIKA dulu, prilaku seks menyimpang perempuan penyuka sesama jenis atau disebut Lesbi hanya ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya. Seiring perkembangan zaman, prilaku menyimpang ini ternyata sudah merambah ke kota-kota kecil, termasuk Curup. Mirisnya, fenomena lesbi ini banyak menyasar kalangan mahasiswi. Berikut penelusurannya.

BUYONO, Curup

Informasi dari salah seorang teman beberapa hari lalu benar-benar mengejutkan saya. Ia mengatakan jika kasus penyimpangan seks perempuan penyuka sesama jenis atau yang dikenal dengan sebutan lesbian sudah merebak di Kota Curup. Dan fenomena ini menurut dia mewabah di kalangan mahasiswi.
Saya pun langsung skeptis. Tidak mau begitu saja mempercayai informasi yang ia sampaikan. Insting wartawan saya langsung tergerak untuk melakukan pembuktian dengan melakukan penelusuran di lapangan dengan mendatangi salah satu perguruan tinggi di RL.

Ternyata mencari narasumber lesbian untuk menceritakan kasus ini bukanlah hal yang mudah. Mereka cenderung menutup diri, apalagi jika tahu bakal untuk konsumsi berita investigasi. Setelah melakukan berbagai upaya, saya akhirnya berhasil mewawancarai salah seorang mahasiswi sebut saja Bunga. Usianya masih 19 tahun. Parasnya manis, tubuh agak mungil dan berkulit kuning langsat. Ia mengaku sempat menjadi “korban” dari temannya yang lesbian.

Dikisahkan Bunga, kejadian berawal saat ia ingin membantu rekan perempuannya yang sedang ada masalah. Namun, lama kelamaan temannya tersebut dicurigainya memiliki gelagat yang tidak wajar dengannya selaku sesama jenis. Hingga suatu saat temannya tersebut berani menyentuh bagian sensitifnya dan mengatakan kalimat sayang. Dari itulah Bunga menyimpulkan jika temannya tersebut lesbian dan ia memilih untuk menghindarinya.
"Dulu dia punya cowok kak, terus putus. Berulang kali putus nyambung dan cowoknya selalu selingkuh. Akhirnya dia benci dengan cowoknya itu dan sekarang dia benci dengan semua cowok. Saya berikan penguatan, saya berikan masukan supaya tetap tegar, eh malah dia suka sama saya. Makanya sekarang saya menghindar," ungkapnya.

Kasus lesbi lainnya juga diceritakan oleh salah seorang mahasiswi semester VI pada salah satu perguruan tinggi di RL, sebut saja namanya Cantik. Menurutnya kasus Lesbi ini sebenarnya sudah melanda Curup sejak beberapa tahun terakhir, bahkan kehebohannya sudah sama besarnya dengan kasus ayam kampus.

Kepada saya Cantik menceritakan bahwa salah seorang temannya juga ada yang Lesbian. Saat itu ia secara tidak sengaja akan berkunjung ke kosan temannya tersebut. Sebelum berangkat kuliah, ia menghampiri kosan temannya itu dan berusaha memanggilnya dari depan pintu yang terbuka setengah.

Karena tidak kunjung ada jawaban, ia menerobos masuk. Ia kaget bukan kepalang saat melihat temannya itu sedang berhubungan intim dengan sesama perempuan di dalam kamar kontrakan. Sejak saat itulah ia merasa takut dan sedih melihat temannya yang ternyata memiliki kelainan seksual.
"Ambo dak nyangko nian, dio tu kawan ambo dari dusun. Orangnyo baik, memanglah setahu aku dio tu masih jomblo. Samo lawannyo tu aku jugo kenal kareno kawan lokal kami jugo. Tapi biarlah, itu urusan dio, kito ko cuma ngingatkan bae kak," celotehnya dengan logat khas Bengkulu sembari menikmati keripik kentang yang dipegangnya.

Untuk menggali informasi lebih jauh, saya menghubungi seorang Konselor yang juga dosen di STAIN Curup, Dina Hajja Ristianti, M.Pd,Kons. Menurutnya, kasus lesbian merupakan salah satu jenis penyimpangan seksual yang berbahaya untuk psikologi pengidapnya dan juga masa depannya.

Ia menjelaskan, ada beberapa penyebab yang membuat orang bisa menjadi pelaku lesbian. Seperti terlalu sering disakiti oleh lawan jenisnya, hingga akhirnya orang tersebut merasa benci dengan lawan jenis dan digeneralisasi bahwa semua laki-laki adalah jahat. Lama kelamaan orientasi seksnya berubah ke sesama jenis yang dianggap lebih lembut dan perhatian.

Kemudian bisa juga karena pernah menjadi korban lesbian. Sehingga ketika putus hubungan dengan pasangan lesbiannya ia akan mencari pasangan atau korban lainnya yang bisa diajaknya untuk menjadi pasangan lesbian. Dina menyamakan kasus Lesbian dengan pedofilia, yang selalu mencari mangsa.
"Beberapa mahasiswa saya pernah juga membuat studi kasus terkait masalah lesbian ini. Memang kasus ini hampir sama dengan pedofilia, mereka mencari mangsa," kata Dina.

Lantas mengapa Lesbian banyak menyasar kalangan mahasiswi? Dina menjelaskan, beberapa penyebabnya yakni lantaran intensitas pertemuan yang begitu tinggi. Kemudian mahasiswi juga banyak yang indekos sehingga luput dari pengawasan orang tua. Belum lagi faktor jumlah mahasiswa laki-laki yang biasanya cenderung lebih sedikit dibandingkan perempuannya dalam suatu lokal atau perguruan tinggi.

Namun, dosen yang sedang menyelesaikan program Doktornya di Universitas Bengkulu itu menambahkan sebenarnya siapapun yang sudah terjerumus ke dalam prilaku Lesbian masih bisa kembali ke jalan yang benar sesuai dengan kodratnya. "Harus mendekatkan diri kepada Allah SWT, lakukan konsultasi atau konseling dengan konselor. Silahkan berdiskusi dengan ustad atau ustadzah. Kemudian menyadari bahwa apa yang dilakukannya sebagai lesbian itu salah, kalau tidak selamanya akan terkungkung dalam prilaku Lesbian yang menyimpang," saran alumnus Universitas Negeri Padang (UNP) ini. (**)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook
Item Reviewed: Menelisik Fenomena Perempuan Penyuka Sesama Jenis di Kota Curup Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai