Monday, 9 January 2017

Curahan Hati Tukang Ojek Pasca Kenaikan Tarif STNK dan BPKB

Beban Hidup Kian Berat, Berharap Ada Solusi


Tukang ojek menunggu penumpang di salah pangkalan ojek Jalan S Sukowati Curup. Foto: Buyono Radar Pat Petulai.
PASCA kenaikan tarif STNK, BPKB, listrik dan BBM, masyarakat yang paling merasakan dampaknya adalah, masyarakat golongan menengah ke bawah. Seperti tukang ojek, setiap hari memerlukan bahan bakar agar motornya bisa jalan dan harus membayar pajak kendaraan jika waktunya sudah sampai. Beban hidup pun dirasakan semakin berat, bagaimana curahan hati para tukang ojek, berikut liputannya.

BUYONO, Curup

Hujan masih gerimis, Agus (40) salah seorang tukang ojek tampak menunggu penumpang di pangkalan Jalan S Sukowati bersama rekannya sesama tukang ojek. Menjadi tukang ojek bukanlah cita-cita bagi Agus, dia terpaksa melakoni profesi tersebut lantaran tidak ada pilihan lain, hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam sehari, Agus hanya mendapatkan penghasilan kotor Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu saja. Belum dipotong untuk membeli BBM jenis Pertalite Rp 20 ribu. Belum lagi jika sudah tiba waktunya mengganti oli, ban dan membayar pajak STNK. Maka, pengeluaran untuk kendaraanya pasti akan bertambah.
Agus juga memiliki 3 orang anak yang masih bersekolah. Ada yang duduk di bangku SMK, SMP dan TK. Semuanya pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. "Meskipun biaya SPP sekarang sudah gratis, tetapi tetap saja butuh uang untuk membeli perlengkapan sekolah," ujar Agus.

"Kado Istimewa" yang ditetapkan pemerintah awal tahun 2017 ini sangat dirasakan sekali dampaknya oleh Agus. Sebagai tulang punggung keluarga, beban hidup semakin berat. Agus hanya bisa pasrah, bertahan hidup sekuat tenaga. Bagi Agus yang terpenting kebutuhan keluarga bisa tercukupi, meskipun harus banting tulang sebagai tukang ojek,  tidak perduli hujan maupun panas. 

Sebagai masyarakat kecil, Agus berharap agar pemerintah mengkaji kembali kenaikan harga BBM, pajak kendaraan bermotor dan tarif listrik. "Harusnya, pemerintah juga melihat kami rakyat kecil ini," keluh Agus, sembari menatap ke kiri dan kanan menunggu penumpang.

Dari kejauhan tampak seorang ibu-ibu yang rupanya guru SMPN 2 Rejang Lebong mengacungkan telunjuknya, sebagai kode memanggil salah seorang tukang ojek. "Ojek Bu?" teriak Halidi (42) rekan Agus sesama tukang ojek.

Meski Halidi yang pertama kali menawarkan jasa ojek, tetapi justru penumpang tersebut diserahkan kepada rekannya yang lain. Ternyata, di pangkan ojek ini ada sistem giliran, siapa yang datang duluan akan mendapatkan giliran pertama, kemudian diurutkan hingga seluruh tukang ojek sekitar 8 orang mendapat giliran.
"Ya beginilah dek, harus giliran. Karena kita sama-sama cari makan di sini. Sehari paling banyak dapat Rp 50 ribu, itu saja kita ngetem di sini dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB. Karena di sini lokasi perkantoran, siapa tahu ada yang lembur," kata Halidi.

Tidak berbeda dengan Agus, Halidi juga mengaku sangat keberatan dengan naiknya berbagai tarif kebutuhan pokok masyarakat tersebut. Menurutnya, kebijakan pemerintah tersebut tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Seharusnya, sebelum mengeluarkan kebijakan, pemerintah harus mempertimbangkan masyarakat kecil yang berekonomi menengah ke bawah. "Pajak naik, BBM naik, Listrik naik, tidak ada lagi yang berpihak kepada kami. Sedangkan kami tidak mungkin menaikkan tarif jasa ojek. Karena tidak semua penumpang mengerti dampak kenaikan ini. Sekarang ini, kami hanya berharap agar ada solusi dari pemerintah untuk masyarakat kecil seperti kami ini," pungkas Halidi seraya membenarkan mantel plastik yang dia kenakan sejak tadi.(**)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook
Item Reviewed: Curahan Hati Tukang Ojek Pasca Kenaikan Tarif STNK dan BPKB Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai