Sunday, 25 December 2016

Kisah Sukses Adi Mulyadi, Desainer Top Indonesia Asal Rejang Lebong

Baes Gemparkan Amerika di Ajang Miss Universe


Tampak Adi didaulat tampil dalam ajang Miss Tourism Quenn World di Malaysia.
Adi Mulyadi saat menceritakan perjalanan karirnya hingga menjadi desainer terkenal Indonesia.

MUNGKIN banyak yang tidak menyangka jika brand (merek) Baes yang menempel pada kebaya yang dipakai peserta dari Indoneesia pada malam Grand Final Miss Universe di Las Vegas, Amerika Serikat lalu merupakan karya putra asli Rejang Lebong. Bahkan kebaya dengan tema Putri Serindang Bulan malam itu sukses menggemparkan Amerika. Siapakah sosok dibalik itu semua? Berikut liputannya.

BUYONO, Curup

Siang itu, Sabtu (19/11), saya mendapatkan kabar jika seorang desainer top Indonesia, Adi Mulyadi (31) tengah pulang ke kampung halamanya di Kota Curup. Sayapun berusaha mencari kotak ponselnya dan berhasil menemukannya di akun intagramnya. Setelah saya hubungi melalui Whats App, Adi menyambutnya dengan ramah.

Singkat cerita, sayapun membuat janji untuk wawancara dengannya. Karena pagi itu dia mau ada meeting dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) RL maka sesi wawancarapun diagendakan pukul 11.00 WIB di kediaman orang tuanya di kawasan Gajah Mada V nomor 520 Kelurahan Air Rambai, Curup.

Tepat pukul 11.00 WIB Adi menghubungi saya melalui What Apps dan mengatakan jika dirinya sudah di rumah. Tidak mudah untuk menemukan rumah orang tua Adi. Karena untuk mencapai rumahnya harus melewati beberapa kali lorong kecil dan banyak persimpangan. Setelah beberapa kali nyasar, saya akhirnya berhasil menemukan rumah sang desainer. "Silahkan masuk mas, inilah rumah orang tua saya," sapa Adi ramah ketika saya tiba di pintu rumahnya.

Seorang pria paruh baya terlihat keluar ikut menyambut saya dari dalam rumah sederhana berukuran sekitar 6 x 12 meter tersebut. Ternyata dia adalah ayah Adi, Saidul Amri. Saya dipersilahkan duduk di sebuah kursi dan disuguhi segelas teh manis buatan orang tua Adi. Adi sendiri masih terlihat fasih berbicara dengan bahasa Rejang dengan ayahnnya yang hanya sedikit saya mengerti artinya.

Setelah obrolan pembuka dan menyeruput teh manis, saya mulai mengajak Adi untuk bercerita bagaimana kisah dirinya hingga menjadi seorang desainer kondang tanah air. Rupaya, tidak ada sebuah keberhasilan yang datang tanpa sebuah proses yang sulit. Ia berangkat dari keluarga yang saat itu sangat miskin.

Adi menceritakan, dia lahir di Kepahiang, 28 maret 1985 silam. Saat itu orang tuanya adalah seorang petani penggarap sawah dan ladang milik juragan tanah di sana. Namun karena suatu hal, saat masih berusia 4 tahun, mereka pindah ke Curup, di rumah yang ditunggu orang tuanya saat ini.

Dulu, rumah yang sekarang berlantai keramik, dihiasi dengan berbagai foto indah dan gorden dengan gaya dan corak moderen itu merupakan sebuah rumah yang jauh dari kata layak. Rumah itu dulu berlantai tanah, berdinding pelupuh dan beratapkan seng bekas dari bekas rehab sekolah. Bahkan ukurannya hanya 5 x 6 meter dan dihuni oleh Adi bersama 5 kakaknya serta kedua orang tuanya. Tidak ada kata lain selain bocor dimana-mana kalau hujan turun. Bahkan mereka hanya tidur beralaskan tikar butut di atas tanah tanpa ranjang.

Ada tiga orang yang dianggap Adi sangat membantu keluarganya selama hidup serba kekurangan tersebut. Yakni Dang Yani, Kak Nasib dan Ibu Yana. Begitu Adi menyapa mereka, ketika hujan turun dengan atap yang selalu bocor. Adi dan kakak-kakaknya kerap diajak menginap di rumah mereka. Bahkan untuk bahan makanan juga sering antarkan kerumahnya.
"Kondisi itulah yang membuat kami, enam saudara memiliki semangat kerja keras. Saat itu, kami enam saudara dan semuanya sekolah. Setelah sekolah saya dan saudara saya bekerja semua, mandiri. Saudara saya ada bekerja sebagai pengasuh, buruh cuci, tukang pembersih kaca gedung, jualan jagung dan lain sebagainya," kata Adi sambil menerawang jauh di atas plapon rumah orang tuanya yang sudah ia rehab.

Pada masa itu, Adi yang kini sudah beromset antara Rp 30 hingga Rp 40 juta  per bulan itu ternyata pernah berjualan jagung rebus. Saat itu Adi masih duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri (SDN) 52 Curup sekitar tahun 1993. Orang tuanya dibantu oleh kakak-kakaknya jualan sayuran di Pasar Atas, jualan es dan jantung pisang.

Mendadak hening, kemudian Adi meneruskan ceritanya. Saat itu ada sebuah kisah yang sampai sekarang masih selalu dan akan selalu dikenangnya. Karena berawal dari itulah tumbuh motivasi terhadap dirinya untuk bisa membahagiakan orang tuanya. Saat itu masih di kisaran tahun 1990-an, ia diajak oleh emak (ibu, red) menonton sebuah pertunjukan musik di Kelurahan Air Rambai bagian depan, sekarang pinggir jalan MH Thamrin.

Sedih melihat Adi yang saat itu masih kecil, emak Adi yang bernama Katilawati mengajaknya untuk jajan bakso di sekitar pertunjukan musik tersebut. Sedihnya, Katilawati hanya memesan setengah porsi saja karena mereka hanya punya uang Rp 500. Diberikanlah oleh tukang bakso setengah porsi bakso dengan satu sendok.
"Saya ajak makan, karena sendoknya cuma satu saya ajak gantian tapi emak tidak mau. Makan aja dulu nanti baru emak, katanya. Intinyakan kalau sisa nanti baru buat emak. Sejak itulah saya selalu ingat, saya saat itu bertekad, mak... kalau ada uang nanti suatu saat tidak perlu lagi emak makan bakso dengan harus menunggu setelah saya makan. Suatu saat emak akan makan sendiri, tidak memesan setengah porsi lagi," cerita Adi dengan mata berkaca-kaca.

Sempat terhenti menahan haru, Adi kembali melanjutkan kisahnya. Pada sekitar tahun 2004 dirinya menyelesaikan sekolah di SMAN I RL dengan predikat siswa terbaik dibidang ekonomi akuntansi Provinsi Bengkulu. Hingga akhirnya dia dikirim untuk menempuh pendidikan diploma I di Glagasari, Yogyakarta. Di sana ia lulus dengan predikat terbaik kedua di Indonesia.

Hingga akhirnya ia langsung ditarik bekerja di Bank BTN Yogyakarta. Setahun kemudian, ia mendapatkan informasi dari kawannya jika Bank BTN Jakarta dengan membutuhkan tenaga kerja baru lulusan D1. Iapun meminta rekomendasi dari Bank BTN Yogyakarta untuk melamar kerja ke Bank BTN Jakarta.

Setiba di Jakarta tahun 2006, ternyata informasi dari temannya tersebut salah. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah tamatan S1 (Sarjana). Karena malu kembali lagi ke Yogyakarta akhirnya ia menetap di Jakarta. Selama 7 bulan ia tinggal di emperan, karena tidak memiliki uang untuk membayar kontrakan. Mencari uang makan sehari-hari hanya dengan membantu mengantar sarapan di tempat-tempat makan sederhana atau warteg hingga akhirnya bisa menyewa kos-kosan murah.

Beberapa perusahaan yang dilamarnya ternyata belum menjadi rezeki Adi. Ia ditolak beberapa perusahaan karena matanya rabun. "Saya tinggal di emperan dengan tidur di atas kardus, dulu tidak berkabar dengan keluarga di sini. Sampai nenek saya di Tes (Lebong, red) bernazar kalau Mul (Adi, red) pulang mereka mau syukuran. Saya menggembel jadi tidak mungkin memberi kabar, takut mereka khawatir," kisahnya.

Kemudian, pada tahun 2008 Adi mulai mengenal dunia fashion setelah bekerja di Boutique Internasional Eva Bund sebagai marketing dekorasi. Di sana ia mulai tahu jika banderol baju yang digunakan untuk acara wedding seharga puluhan juta. Ia membandingkan, di Curup, kala itu uang Rp 40 juta sudah bisa untuk membeli sawah, sedangkan di ibukota hanya untuk sehelai baju nikah.

Saat itu ia termotivasi untuk menjadi desainer. Ia banyak belajar dari internet dan buku-buku di perpustakaan daerah. Setahun setengah bekerja di Eva Bun kemudian Adi pindah kerja ke Raden Sirait sebagai asisten desainer. Setahun kemudian ia keluar dari Raden Sirait dan bertekad membuat pakaian sendiri dengan brand sendiri. Hingga lahirlah sebuah brand yang sudah kenamaan saat ini, Baes By Adi Mulyadi pada tahun 2011.
"Karena saya bangga dengan tanah kelahiran saya dan saya suku Rejang, jadi saya masih membawa bahasa Rejang. Yakni kata Baes dalam label saya. Kata Baes itu artinya indah dan itu sifatnya fleksibel, bisa indah untuk laki-laki dan perempuan. Kemudian logo saya juga pakai logo Bunga Rafflesia, karena saya bangga sebagai putra asli Provinsi Bengkulu," lanjutnya.

Ternyata karya Adi yang menerapkan sistem limited edition, dimana setiap model pakaian tidak akan ada duanya, langsung mampu menggebrak dunia fasion kala itu. Pada tahun 2013 dalam ajang Miss Tourism Quenn World di Malaysia yang diikuti 83 negara peserta, kebaya karya Adi juga dipakai oleh peserta dari Indonesia.

Setahun sebelumnya, karya Adi juga pernah dikenakan oleh Maria Selena dalam malam final Miss Universe di Las Vegas, Amerika Serikat, Desember 2012. Puteri Indonesia 2012 kelahiran Palembang 24 September 1990 pada malam puncak itu mengenakan pakaian kebaya rancangan Adi Mulyadi berbahan kain sutra sifon setapura berwarna ungu. Detail payet silver dan gold bercampur kilauan kristal Swarocski pada bagian dada. Hingga membuat Maria tampil memukau.

Bungsu dari enam bersaudara itu menceritakan, gaun tersebut sebenarnya memiliki tema yang lebih meng-Indonesia. Yakni bertemakan Putri Serindang Bulan. Dimana Putri Serindang Bulan bagi masyarakat RL tentu bukanlah hal yang asing. Ia adalah seorang sosok putri di tanah Rejang yang sangat melegenda.
"Saya masukkan tema itu karena saya ingin nuansa daerah saya ini sampai ke dunia internasional. Waktu itu ditampilkan di malam grand final, kebaya warna Ungu dengan tema Serindang Bulan tampil disana yang dihadiri oleh 98 perwakilan negara di dunia dan disiarkan secara langsung diberbagai stasiun televisi di belahan dunia dengan disaksikan jutaan pasang mata," katanya dengan semangat.

Ayah Adi masih ikut menemani kami yang asyik mengobrol di ruang tamu dengan luas sekitar 3 x 5 meter tersebut. Adipun melanjutkan kisah suksesnya selama menjadi desainer. Bapak anak satu yang pernah bersekolah di SMPN 5 RL itu mengatakan, beberapa negara bahkan pernah menjadi ajang show pakaian rancangannya. Seperti Rusia, Selandia Baru, Sanghai, China, Malaysia, Vietnam, Singapura, Thailand dan puluhan negara lainnya.

Bahkan kebaya karya Adi juga sudah lebih dari 8 kali dibeli oleh orang Amerika dan mereka datang langsung kerumahnya di Jakarta. Sayangnya belum pernah ada baik Pemprov Bengkulu maupun kabupaten/kota lainnya yang menjalin kerjasama dengan Adi untuk mengembangkan karyanya di daerah kelahirannya ini.

Malahan beberapa kali gelaran pemilihan Abang - None DKI Jakarta, pemilihan Kang Nong Banten dan beberapa daerah lainnya sudah pernah menjalin dengan ayah dari Khoirin Fatimah Dafier (2) ini. Kini baju-baju karya Adi dipasarkan mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 80 jutaan. "Kalau baju-baju saya mulai dari 50 jutaan untuk wedding. Kalau untuk pesta-pesta mulai dari 20 sampai 30 jutaan, kalau yang paling mahal Rp 80 jutaan itu pada tahun 2009 untuk wedding," tuturnya.

Untuk memasarkan hasil karyanya, kendati sudah mendunia Adi tidak memiliki website atau boutique. Ia hanya mengandalkan jaringan yang dimilikinya selama ini. Dan terbukti pelanggannya hingga menjangkau pasar Amerika Serikat. Bahkan beberapa acara televisi seperti D Academy Asia, D Academy Indosiar, di RCTI dan beberapa stasiun televisi swasta nasional lainnya banyak yang telah menggunakan jasa pakaian dari Baes Adi Mulyadi.

Beberapa artis dan tokoh nasional juga pernah mengenakan pakaian buatan Adi. Sebut saja artis dangdut Ayu Tingting saat Pra wedding dengan Anji beberapa waktu lalu, kemudian Mega Diaz, Zaskia Gotik, Cita-Citata hingga pejabat tinggi Menteri Pariwisata Yoga Puspa pernah mengenakan karyanya.

Kini Adi telah merasakan bertapa nikmatnya hasil dari sebuah kerja kerasnya dan juga orang tuanya selama ini. Bahkan sebagai bukti sayangnya untuk orang tua pada Mei 2016 lalu, kedua orang tua Adi telah melaksanakan Umroh ke tanah suci Mekkah. Orang tuanya juga pernah dibiayai untuk sekedar jalan-jalan menghibur diri di masa tuanya ke Bali, Padang dan Jakarta.
"Saya memiliki impian yang sampai sekarang belum tercapai, yakni bagaimana supaya karya saya ini bisa dipakai dan dibanggakan di daerah saya sendiri. Karena selama ini karya saya selalu dipentaskan di tingkat nasional bahkan internasional tapi belum didaerah saya," katanya lirih menutup obrolan kami seputar perjalanan hidupnya.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Setelah menghabiskan teh yang telah disuguhkan sayapun berpamitan untuk pulang. Adi dan ayahnya berulang kali mengucapkan terimakasih atas kunjungan saya. Saya terenyuh, kendati telah sukses tidak tampak sedikitpun raut kesombongan di mata mereka. Mereka tetap rendah diri dan tidak angkug dengan apa yang telah dicapainya. (**)


Biodata

Nama     : Mulyadi Saidul Amri
Tempat / Tanggal Lahir     : Kepahiang, 28 Maret 1985
Alamat     : Duren Sawit, Jakarta Timur
Ayah     : Saidul Amri
Ibu     : Katilawati
Istri     : Riski Hamidah
Anak     : Khoirin Fatimah Dafier 23 bulan

Pendidikan    
- SDN 52 Curup
- SMPN 5 RL
- SMAN 1 Curup
- Diploma 1 Perbankan Glagahsari, Yogyakarta
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook
Item Reviewed: Kisah Sukses Adi Mulyadi, Desainer Top Indonesia Asal Rejang Lebong Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai