Sunday, 18 December 2016

Kisah Perempuan – perempuan Perkasa dari Desa Dataran Tapus

Berharap Tetesan Darah dan Keringat Menjadi Berkah  

Foto: Beni Radar Pat Petulai
ANGGAPAN perempuan mahluk lemah tidak berlaku di Desa Dataran Tapus Kecamatan Bermani Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong. Perempuan-perempuan di desa ini terkenal “perkasa” karena mereka mampu melakukan pekerjaan yang lazimnya dilakoni kaum adam. Ingin tahu kisahnya, simak laporan berikut.

BENI ARDIANSYAH, Bermani Ulu Raya

Desa Dataran Tapus terkenal sebagai salah satu desa penghasil batu bata di Kabupaten Rejang Lebong. Berjarak hanya beberapa puluh kilometer dari pusat pemerintahan, desa ini berada persis di jalur lalu lintas Curup -  Lebong. Desa ini memiliki kontur tanah kuning kecoklatan atau yang biasa disebut tanah liat. Tanah jenis ini sering menjadi bahan baku pembuatan batu bata. Potensi ini dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk membuka usaha pembuatan batu bata.

Sejak pertama memasuki kawasan desa, mata kita akan langsung disuguhi pemandangan puluhan pondok beratap yang berjejer di pinggir jalan. Di pondok-pondok itulah aktifitas pembuatan batu bata berlangsung. Susunan batu bata juga tampak berjejer rapi di luar pondok yang menandakan salah satu bahan utama pendirian rumah itu siap didistribusikan.

Meskipun saat itu masih pukul 08.55 WIB, namun beberapa orang sudah tampak sibuk melakukan aktifitas pemuatan batu bata ke dalam truk yang berbaris di sisi jalan raya. Sekilas aktifitas itu terlihat biasa-biasa saja. Namun ketika dilihat lebih dekat, ada satu yang cukup menarik perhatian, yakni orang-orang yang memuat batu bata ke dalam truk ternyata semuanya perempuan. Ya, perempuan-perempuan inilah yang menjadi buruh angkut batu bata. Mereka bertugas mengangkat batu bata dari tempat pembuatan hingga memuat dan menyusun di dalam truk. Dengan mengenakan celana panjang serta baju lengan panjang, perempuan yang rata-rata ibu rumah tangga ini tampak bersemangat mengangkut dan menyusun batu bata ke dalam truk.

Dalam bekerja, para perempuan ini membentuk kelompok-kelompok. Satu kelompok terdiri dari empat orang yang bertanggungjawab memuat batu bata dalam satu truk. Untuk mengisi penuh satu truk berkapasitas 10 ribu batu bata, mereka menghabiskan waktu lebih kurang tiga jam. Tidak terlihat raut lelah dari wajah mereka meskipun sudah mengangkut ratusan batu bata. Malah sebagian masih sempat bersenda gurau sembari meskipun di tangan mereka ada beban puluhan batu bata yang hendak dimasukkan ke dalam mobil.

Berselang satu jam kemudian, tepatnya pukul 09.45 WIB, kelelahan mulai tampak melanda. Peluh mulai bercucuran dari wajah mereka. Baju yang mereka kenakan juga sudah tampak basah oleh keringat. Satu per satu dari mereka mulai menghentikan aktifitas untuk beristirahat sejenak.
Selain untuk memulihkan stamina, berhenti sejenak juga penting dilakukan sebab kondisi ini merupakan saat rawan bagi mereka. Jika lalai sedikit saja, dampaknya bisa fatal. Tak jarang ada yang tangan dan kakinya terluka karena tertimpa batu bata yang terlepas dari cengkraman. Apalagi mereka bekerja tanpa kelengkapan keamanan seperti sepatu dan sarung tangan.

Tempat favorit bagi mereka untuk beristirahat yakni pohon mangga yang rindang berada tak jauh dari pondok. Duduk bersandar di batang pohon dengan kaki menjulur ke depan, seakan menjadi posisi paling nikmat yang mereka rasakan saat itu. Air putih dalam botol yang sudah mereka bawa dari rumah, hanya dalam beberapa detik langsung habis separuh melewati kerongkongan mereka yang kering.
Di sela-sela melepas dahaga, sesekali mereka masih sempat bercengkrama. Wajah-wajah lelah yang tadi terlihat seketika sirna dan berubah kembali menjadi wajah-wajah ceria. "Mengobrol salah satu cara kami menghilangkan penat dan lelah. Terkadang dengan tertawa bersama semakin menguatkan rasa kebersamaan dan memberi semangat baru bagi kami untuk melanjutkan pekerjaan," ujar Suhri, salah satu buruh perempuan ketika dibincangi RPP di sela-sela waktu istirahatnya.

Suhri sendiri sudah melakoni pekerjaan ini selama 13 tahun. Tangan berdarah akibat tergores tajamnya bata bata dan kaki yang luka akibat tertimpa sudah sering ia rasakan. Namun itu semua ia anggap hal biasa sebagai resiko dalam bekerja. "Kalau tangan berdarah dan kaki berdarah tertimpa batu bata sudah biasa sakitnya. Paling sakit sebentar, nanti akan sembuh juga," timpal Sri, perempuan di sebelahnya.

Perempuan lain bernama Lela yang sedari awal tampak diam, kemudian ikut larut dalam obrolan. Ia mengaku sebenarnya berat menjalani pekerjaan ini. Apalagi upahnya sangat kecil, hanya 10 rupiah untuk satu buah batu bata. Namun demi membantu perekonomian keluarga dan membiayai sekolah anak-anak, ia pun rela meski harus bekerja keras. "Biarlah saya jadi kuli angkut batu bata agar anak-anak tetap sekolah. Sebagai orang tua, kami tidak ingin nasib mereka seperti kami, menjadi buruh. Dengan tetes keringat ini, kami  selalu berdoa semoga menjadi berkah untuk anak-anak kami nanti dan mereka bisa menjadi orang," ungkap Lela yang sudah melakoni pekerjaan ini selama 18 tahun.

Setelah istirahat dirasa cukup, mereka kembali beranjak menuju pondok untuk meneruskan aktifitas pemuatan batu bata. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB dan pekerjaan pemuatan batu bata sudah selesai. Setelah menerima upah kerja, mereka pun berangsur pulang ke rumah untuk melanjutkan pekerjaan seorang ibu yakni memasak untuk suami dan anak-anak yang tak lama lagi akan pulang sekolah. (**)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook
Item Reviewed: Kisah Perempuan – perempuan Perkasa dari Desa Dataran Tapus Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai