Friday, 30 September 2016

Saat Pembacaan Materi Putusan, Hakim Meneteskan Air Mata

Majelis Hakim pada saat sidang putusan terdakwa dewasa, kasus pembunuhan Yuyun.
Sebelumnya di hari yang sama yakni pukul 09.30 WIB majelis hakim juga membacakan vonis untuk Ja (13), terdakwa anak di bawah umur kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun. Dalam putusannya hakim menjatuhkan hukuman satu tahun Rehabilitasi Sosial di LPKS (Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial) Marsudiputra di Bambu Apus Jakarta Timur, sama dengan tuntutan JPU pada persidangan sebelumnya.

Vonis rehabilitasi ini dijatuhkan mengingat terdakwa masih di bawah umur dan sesuai dengan Pasal 82 UU RI No 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak, terdakwa anak di bawah umur tidak bisa dihukum penjara, melainkan cukup dilakukan rehabilitasi.

Menariknya, saat pembacaan materi putusan, Ketua Majelis Hakim Heny Faridha, SH, MH sempat meneteskan air mata. Heny larut dalam perasaan sedih saat mendengar kisah pahit perjalanan kehidupan terdakwa Ja yang dibacakan hakim anggota Fakhrudin, SH, MH. Dari sana terungkap jika Ja merupakan anak yang tidak diurus oleh orang tuanya. Setelah ayahnya dipenjara karena memperkosa anak kandungnya sendiri yang tak lain saudara perempuan Ja, ibu kandung Ja menikah kembali dan memilih tinggal bersama suami barunya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Ja hanya mengandalkan belas kasihan orang, terkadang ia bekerja menjadi buruh harian lepas dan hanya mendapat imbalan untuk makan. Sebelum kejadian, Ja sempat diperlihatkan video porno oleh rekannya, ditambah lagi atas perintah Zainal alias Bos, maka Ja terobsesi ikut memperkosa Yuyun.
"Setelah mendengarkan keterangan 16 saksi diantaranya 12 saksi yang terdiri dari 7 terdakwa anak-anak, 5 tersangka dewasa dan visum dokter, orang tua Yuyun serta orang tua terdakwa, maka sesuai fakta hukum, Ja bersalah. Namun karena saat melakukan aksi pemerkosaan yang disertai pembunuhan Yuyun yang dilakukan secara bersama-sama 13 pelaku lainnya Ja masih berumur 13 tahun sehingga tidak bisa dijerat dengan pidana, hanya saja dilakukan rehabilitasi sosial, sesuai pasal 82 UU RI No 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak," terang Fakhrudin.

Sementara Ketua Majelis Hakim Heny Faridha, SH, MH mengatakan putusan satu tahun rehabilitasi sosial merupakan ganjaran yang setimpal terhadap apa yang dilakukan Ja. “Kita majelis hakim memberikan waktu selama 7 hari ke depan, apakah Ja maupun tim kuasa hukum akan mengajukan banding atau tidak. Jika dalam waktu 7 hari nantinya tidak ada keputusan maka putusan dinyatakan inkrah," tutup Heny Faridha.

Terpisah, Tim kuasa hukum Ja, Gunawan, SH mengungkapkan masih pikir-pikir terlebih dahulu, apakah akan melakukan banding atau tidak. Sebab hal itu akan dikoordinasikan dengan Ja dan keluarganya terlebih dahulu. "Kita lihat saja nanti ya bang,” singkat Gunawan. (wsa)
  • Komentar via G+
  • Komentar via Facebook
Item Reviewed: Saat Pembacaan Materi Putusan, Hakim Meneteskan Air Mata Rating: 5 Reviewed By: Radar Pat Petulai